Label

Kamis, 19 Juni 2014

BENAZIR BHUTTO


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Dalam suatu negara tidak disangsikan dengan adanya sebuah pemerintahan. Pemerintahan tersebut tidak jarang adanya kudeta-kudeta yang saling menghancurkan kekuasaan satu sama lainnya yang dapat mengakibatkan perpecahan. Selain itu akan muncul konflik dimana-mana, dan pasti akan muncul tokoh-tokoh di dalamnya.
Sejak kemerdekaan Pakistan tahun 1947, negeri ini digerogoti oleh berbagai unsur disintegrasi. Disintegrasi itu bervariasi dari hal agama, etnis dan sederet daftar konflik lainnya. Hal ini membuat negeri yang diimpikan oleh mendiang penyair dan filosof terkenal, Muhammad Iqbal untuk mampu memberikan kesejahteraan bagi kaum Muslim ini akhirnya dilanda kesulitan berkepanjangan.
Pakistan yang berhasil “didirikan” Ali Jinnah ini, memang berpenduduk multietnis. Pada awal kemerdekaannya tahun 1947 masyarakat Pakistan terdiri atas Sindh,  Punjab, Baluchistan, Pathan, Mojahir yang semuanya tinggal di Pakistan Barat. Sementara di  Pakistan Timur yang wilayahnya lebih sempit dihuni oleh kaum Bengali dan Bihar. Pada akhir 1970 Pakistan Timur memisahkan diri menjadi Bangladesh lewat perjuangan berdarah.
Problema keagamaan bukan berkisar soal sekte saja, melainkan pula pada soal interpretasi dan menyikapi pembangunan dan modernisasi. Di Pakistan setidaknya terdapat tiga kelompok keagamaan, yakni : kaum Islam sentralis, Islam populer dan Islam sekuler. Islam sentralis ingin menerapkan syariat Islam secara utuh ke dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Mereka menentang bukan saja ide pemisahan agama dan politik, melainkan juga pada sikap mencampur adukkan antara Islam dengan unsur-unsur budaya masyarakat yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Sebagaimana Islam Sentralis, kaum Islam Populer juga ingin menerapkan syariat Islam secara lengkap, namun tanpa mengabaikan kultur masyarakat yang ada, seperti budaya pengkultusan seorang wali/kyai dan para keturunannya. Padahal hal-hal semacam itu adalah sangat ditentang oleh Islam Sentralis yang melihatnya sebagai khurofat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Sedangkan kaum Sekunder jelas menolak diterapkannya syariat Islam ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bagi kelompok ketiga ini, agama adalah merupakan persoalan individu. Bila negara telah menerapkan jiwa keadilan, demokrasi, dan penegakan hukum, maka sebenarnya negara telah menerapkan prinsip dan nilai-nilai Islam.
Ketiga kelompok berhadapan satu sama lain dalam memperjuangkan idenya. Pola persaingan antara ketiga pemahaman berbeda ini akhirnya terefleksi pula pada kehidupan sosial politik, termasuk pula dalam afiliasi kepartaian. Akibatnya, siapapun yang berkuasa akhirnya tak dapat mengabaikan isu keagamaan ini. Islam, selalu dipakai alat untuk mempertahankan dan menggoyahkan kekuasaan. Penguasa memakai isu Islam untuk mempertahankan kekuasaan. Sebaliknya oposisipun memakai isu Islam untuk menggoyahkan kekuasaan. Ayub Khan misalnya, kendati memakai isu “Modernisme Islam” dalam kebijakannya ternyata tetap mendapat tantangan keras dari tokoh-tokoh agama. Ali Bhutto yang melontarkan kebijakan “Sosialisme Islam” akhirnya mengalami nasib yang sama dengan Ayub, dicerca aliansi penentang dengan bendera Islam pula. Dan yang tak kalah menarik, Zia ul-Haq yang terkenal sebagai figur yang taat beragama, kebijakan “Nizamul Islam” yang dilancarkannya ternyata juga tidak sepi dari tantangan berargumentasikan dan berdalih keagamaan pula.
Akibat berbagai perseteruan berdimensi primordialisme etnik dan keagamaan ini akhirnya mengantarkan Pakistan pada situasi instabilitas dan berkesudahan. Telah sekian pemimpin negeri itu tewas akibat persaingan politik yang berlatar etnis, agama, dicampur aduk dengan interest (kepentingan) pribadi untuk berkuasa. Berpijak pada instabilitas tak berkesudahan inilah akhirnya militer punya alas an yang cukup untuk turut campur menangani kehidupan politik. Kemelut politik di Pakistan telah menjadi agen sosialisasi politik yang ampuh bagi militer untuk akhirnya terlibat langsung bahkan mengendalikan perpolitikan Pakistan. Yahya Khan, Ayub Khan, dan Zia ul-Haq adalah jendral-jendral yang sempat berkuasa di Pakistan.
Kini, terdapat tiga actor utama (troika) dalam perpolitikan Pakistan: militer, presiden, dan perdana menteri. Namun, banyak analisis berpendapat sentrum dari ketiga kekuasaan tadi tetap dikendalikan militer. Sehingga, siapapun yang ingin menjadi pemimpin Pakistan dia haruslah mendapatkan “restu” dahulu dari militer. Disinilah Benazir Bhutto sedang diuji. Yang menarik, pertentangan politik dalam negeri Pakistan yang bersumber dari visi agama (Islam) telah menyumbang andil potensial bagi disintegrasi Pakistan sebagai suatu bangsa. Sukses Benazir Bhutto keluar dari berbagai kemelut itu akan memperkokoh namanya sebagai seorang negarawati Islam di sebuah negara Muslim. Namun, kepemimpinan Benazir tampaknya tidak berjalan mulus. Pemecatan Benazir sebagai Perdana Menteri oleh Presiden Farooq Ahmed Leghari menunjukkan sekali lagi bahwa ia berhadapan dengan berbagai “batu sandung”.
Sehingga untuk mengapresiasikan dan menambah wawasan, dalam makalah ini penulis mencoba menjelaskan mengenai sosok Benazir Bhutto yang disanjung namun dibenci tersebut. Serta masa kepemimpinannya dan akhir hidupnya.

B.     Rumusan Masalah
Pada makalah ini penulis akan membahas masalah :
1.      Bagaimana riwayat hidup atau biografi dari Benazir Bhutto ?
2.      Bagaimana pemerintahan Dinasti Bhutto ?
3.      Tragedi apa saja yang terjadi di Pakistan saat adanya konflik Pakistan ?
4.      Siapa pembunuh Benazir Bhutto ?

C.     Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui daftar riwayat hidup atau biografi dari seorang Benazir Bhutto.
2.      Untuk mengetahui tentang pemerintahan dinasti Bhutto.
3.      Untuk mengetahui konflik apasaja yang terjadi di Pakistan.
4.      Untuk mengetahui siapa pembunuh Benazir Bhutto.












BAB II
PEMBAHASAN

A.     Benazir Masuk Ke Gerbang Politik
Benazir (dalam bahasa Pakistan berarti: tidak ada duanya) lahir tanggal 21 Juni 1953, dari pasangan sebuah keluarga tuan tanah ~ Ali Bhutto dengan istri keduanya Begum Nusrat ~ di Larkana, Sindh, sebuah provinsi terbesar kedua di Pakistan bagian Selatan. Ia dibesarkan dalam lingkungan masyarakat yang mayoritas masih buta huruf, masyarakat feodal yang (waktu itu) masih cenderung memandang wanitasejenis perabot keluarga, dimana laki-laki ke luar rumah mencari nafkah dan wanita cukup mengurus rumah tangga. Pembagian kerja demikian oleh masyarakat Pakistan dipercaya sebagai telah diatur oleh alam secara luhur dan adil, dan oleh karena itu harus dipertahankan.
Kepercayaan demikian lebih diperkuat oleh interpretasi sebagian Ulama Pakistan ~ yang 97% penduduknya beragama Islam itu ~ bahwa ajaran Islam tidak mengijinkan pria menjadikan wanita sebagai imam dalam shalat berjama’ah (bersama). Sehingga sebagai konsekuensi kiasnya, seorang wanita tak diperkenankan menjadi pimpinan, termasuk dalam pemerintahan. Karakteristik masyarakat feodal (dengan masyarakat didominasi kaum pria) ini akhirnya menyebabkan terhambatnya mobilitas hidup di kalangan wanita. Wanita cenderung tertinggal dalam banyak hal, termasuk bidang pendidikan.
Namun, justru dalam situasi demikian ternyata Benazir berhasil memperlihatkan perbedaan mendasar dalam latar belakang kehidupannya. Benazir mengalami proses Sosialisasi, Internalisasi dan Enkulturasi secara lebih menguntungkan disbanding umumnya wanita Pakistan. Nilai-nilai yang tertanam dalam diri Benazir ini ~ baik yang diperoleh karena usaha aktif lewat bangku sekolah maupun dari berbagai pengalaman hidup yang ia alami ~ sangat berpengaruh dalam membentuk watak/kepribadiannya baik sebagai seorang individu maupun sebagai anggota masyarakat serta membedakannya dengan kebanyakan wanita Pakistan.
§         Akulturasi Nilai
Berbeda dengan mayoritas rakyat Pakistan yang hidup dalam kemiskinan, sebagai anak Ali Bhutto ~ dengan latar belakang keluarga tuan tanah yang kaya ~ kehidupan Benazir tak pernah kekurangan materi. Apalagi Ali Bhutto pun adalah pejabat tinggi yang luas pergaulan dan pengalamannya, yang oleh sebab itu dia punya sikap berbeda dari umumnya keluarga Pakistan dalam urusan pendidikan anak-anaknya. Bhutto yang dikenal berpandangan cenderung sekuler bersikap sangat moderat dalam mendidik anaknya. Bahkan walaupun berasal dari keluarga Muslim, Benazir diperkenankan menamatkan pendidikan menengahnya di sekolah-sekolah Katholik. Sehingga tak ditutupi lagi Benazir pun pernah menghadiri misa di sekolah dan atau gereja.
Setelah tamat sekolah menengahnya pada usia sangat muda (16 tahun) Benazir telah dikirim ke Amerika untuk melanjutkan pendidikannya di Radclieffe College, sekolah Khatolik khusus wanita di bawah bendera Harvard University. Di Amerika dalam waktu relatif singkat ternyata Benazir sudah mampu menemukan pribadinya dalam menghadapi budaya Barat yang sangat berbeda dari budaya Pakistan. Sehingga ia segera dapat aktif terlibat dalam berbagai kegiatan, termasuk ikut berpartisipasi dalam demonstrasi anti Perang Vietnam, dan naik subway untuk menonton film-film prcintaan. Bahkan bagaimana para mahasiswi lain, ia pun suka menghadiri pesta-pesta dan bercakap-cakap secara intim dengan teman-teman prianya. Benazir lebih sering tampak dengan Blue Jeans dan Sweters daripada Salwar-kemeez pakaian nasional Pakistan.
Di kampusnya Benazir dikenal sebagai orator ulung. Bakatnya sebagai orator semakin terlihat terutama setelah Benazir melanjutkan kuliah di Oxford University, Inggris. Bahkan Benazir akhirnya terpilih menjadi pimpinan Oxford Union, sebuah kelompok diskusi di kampus Oxford, setahun setelah ia lulus dari perguruan tinggi terkenal itu.
Jiwa Benazir mengalami percampuran (akulturasi) budaya antara nilai-nilai Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan dengan nilai-nilai sekuler Barat, antara nilai-nilai feodal masyarakat Pakistan dengan nilai-nilai kebebasan Barat. Akulturasi demikian akhirnya membentuk Benazir pada suatu pribadi “mendua”, dalam arti tak mempunyai keterkaitan kuat terhadap suatu nilai tertentu, baik dalam Islam, adat-istiadat Pakistan, maupun nilai-nilai sekuler Barat. Dalam hidupnya Benazir pun cenderung berusaha “mengawinkan” berbagai nilai yang telah tersosialisasi, terinternalisasi, dan terenkulturasi dalam dirinya itu.
Sehingga orientasi nilai yang dianut Benazir pun akhirnya lebih merupakan kaitan dan atau kompromi antara sistem keyakinan yang dianutnya dengan cita-cita yang ingin diraihnya. Keyakinannya dapat dikendorkan dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Bahkan, kadang kala Benazir nampak berupaya merasionalisasikan nilai-nilai yang dia anut dalam rangka mencapai apa yang ingin dicapainya. Antara keyakinan dan keinginan (harapan) seolah-olah dapat dikompromikan. Hal ini dimungkinkan, karena Benazir memang tak memiliki dan atau mengikuti suatu keyakinan (nilai dasar) yang mendarah daging dan eksklusif.
§         Sang Putri Mahkota
Mungkin tak berlebihan untuk dikatakan bahwa Benazir sebenarnya telah mulai kenal dunia politik sejak ia masih “kanak-kanak”. Hal ini dimungkinkan mengingat ayahnya, Ali Bhutto, sudah menjabat pos-pos penting di pemerintahan. Pakistan (mulai dari Menteri Luar Negeri, Ketua Delegasi Pakistan di PBB, dan akhirnya sebagai Perdana Menteri) tatkala Benazir masih kecil.
Apalagi untuk menambah pengetahuan anak-anaknya, Ali Bhutto pun telah terbiasa mendongengi mereka dengan cerita tokoh-tokoh dunia seperti Alexander Agung, Napoleon, dan lain-lain. Kebiasaan demikian secara tidak langsung telah menjadi ajang sosialisasi politik ~ proses-proses pembentukan sikap-sikap politik dan pola-pola tingkah laku, juga merupakan sarana bagi suatu generasi untuk ‘mewariskan’ patokan dan keyakinan-keyakinan politik generasi sesudahnya ~ pada diri Benazir yang menurut istilah dari Hess dan Torney disebut sosialisasi dengan model alih antar pribadi (interpersonal).
§         Politisi Wanita
Pada Juli 1977 terjadi perebutan kekuasaan oleh Jendral Zia ul-Haq, yang berujung pada dieksekusinya Ali Bhutto karena dituduh terlibat pembunuhan politik. Tewasnya sang ayah pada 4 April 1979 itu kendati telah menghancurkan hampir seluruh kebahagiaan diri dan keluarganya, namun tidaklah membuat Benazir larut dalam kesedihan. Peristiwa itu justru dijadikan fundamen bagi titik balik kehidupan Benazir untuk mulai terjun dalam kehidupan politik, menentang pemerintahan Zia ul-Haq yang dianggap telah memporak-porandakan kehidupan Demokrasi.
Dengan kata lain, kematian Ali Bhutto telah memicu terjadinya suatu resosialisasi pada diri Benazir terhadap kehidupan politik. Mulanya, Benazir tak terlalu suka terlibat dalam urusan politik praktis. Namun setelah terjadi malaise sosial politik yang berujung pada kematian sang ayah, akhirnya Benazir berbalik arah menjadi sangat terlibat dalam politik. Benazir yang mulanya hanya “seorang gadis manja”, akhirnya harus berhadapan dengan kerasnya politik Pakistan. Bahkan dalam hal resosialisasi ini Benazir menyatakan : “Yang utama dalam kehidupanku adalah politik, baru yang lain-lain..Kewajibanku yang utama adalah untuk demokrasi di negaraku”.
Hanya akibat dendam atas terbunuhnya sang ayah Benazir akhirnya berani untuk berusaha membongkar segala “kebobrokan” pemerintahan Zia ul-Haq yang disebutnya telah memporak-porandakan kehidupan demokrasi. Benazir diubah oleh beratnya “beban” moral perjuangan di masa-masa susah akibat kematian sang ayah. Sebab, sebenarnya tidak sedikitpun perhatian sehari-harinya di masa kuliahnya mengisyaratkan bahwa ia akan mempunyai keberanian untuk terjun ke kancah politik.
Akibat resosialisasi politiknya itu, Benazir akhirnya harus “mengenal” kehidupan penjara pada tahun 1978 akibat menghina rezim penguasa dalam berbagai pidatonya. Setahun kemudian dia ditahan lagi karena melakukan rapat gelap, di samping menimbulkan kerusuhan dan berbuat makar. Juga awal tahun 1981, Benazir yang belum lama dilepas dari tahanan akhirnya berurusan lagi dengan penjara tak lama setelah kelompok al-Zulfikar ~ kekuatan anti pemerintah yang dibentuk kedua anak laki-laki Ali Bhutto dalam pengasingan di Afghanistan ~ membajak pesawat milik Pakistan. Pembajakan itu memaksa Zia melepaskan sejumlah tahanan politik untuk menyelamatkan sandera.
Semula Benazir “sedikit senang” ketika mendengar akan dijebloskan dalam penjara. Dia berharap di penjara akan dapat bertemu dengan para tahanan politik lainnya. Namun, ternyata Benazir dikurung dalam suatu sel tersendiri di penjara Sukkur. Alhasil, selama di penjara Benazir pun berulangkali jatuh sakit, bukan karena konon penjara itu suhunya mencapai 49°C bila badai panas melanda Karachi, melainkan terutama karena didera rasa kecewa akibat harapannya yang kandas. Namun kebribadian dan semangat Benazir ternyata cukup kuat. Sehingga kendati ruang lingkupnya menjadi terbatas karena dipaksa untuk meringkuk dalam penjara dan atau terkena tahanan rumah, namun amarah dan kenangan kepada mendiang ayahnya telah menyebabkan Benazir mampu bertahan.
Uraian tersebut telah menggambarkan, bahwa sosialisasi politik yang dialamu Benazir, baik melalui model akumulasi yaitu lewat informasi-imformasi politik, termasuk yang dia peroleh selama kuliah politik secara teoritis, maupun model alih antar pribadi ~ berkaitan dengan masa maksimum pembentukan kepribadian politiknya, yaitu masa tatkala Benazir paling menghayati nilai-nilai politik ~ ternyata menjadi struktur nilai-nilai yang mendalam, kukuh dan sulit berubah. Hal ini terlihat dari sikap Benazir yang secara kokoh berusaha mengawinkan nilai-nilai yang ia peroleh dari dunia barat yang sekuler, Islam yang integral (kaffah), dan nilai budaya Pakistan yang masih feodal.
Akhirnya, keyakinan Benazir ini secara jelas dimanifestasikan ke permukaan. Dengan dibakar dendam atas kematian ayahnya, Benazir menciptakan suatu Frame Works of Power ~ yang menurut John Franch dan Bertram Revem ~ dengan cara (model) identifikasi diri terhadap orang yang sangat dikaguminya, dan kebetulan ayahnya sendiri, Ali Bhutto.
§         Tahun-tahun di Pengasingan
Setelah mendapat desakan dari banyak negara khususnya Amerika Serikat, akhirnya (setelah 3 tahun meringkuk dalam penjara) pada Januari 1984 Benazir diizinkan meninggalkan Pakistan. Kepergian Benazir ke luar negeri ini di prediksikan banyak pihak bukan sekedar akan dimanfaatkan untuk mengobati infeksi telinganya yang semakin parah, ataupun hanya untuk menyusul sang ibu yang tahun 1982 telah lebih dulu mendapat izin berobat ke luar negeri karena kangker paru-paru yang di deritanya. Lebih dari itu, Benazir diduga akan memanfaatkan “pengasingannya” ini untuk menjajaki situasi serta untuk menyusun kekuatan baru guna menentang rezim militer pimpinan Zia ul-Haq. Ternyata dugaan demikian tidak terlalu meleset. Kepahitan hidup selama di penjara telah membuat Benazir menjadi wanita tabah dan berani. Bahkan, ketika ditanya tentang apakah keberadaannya di Eropa adalah dalam rangka pengasingan, dengan tegas Benazir membantah: “Kenapa aku harus mengasingkan diri keluar negeri?, aku kemari untuk perawatan kesehatanku. Aku dilahirkan di Pakistan, aku akan mati di Pakistan. Kakekku dimakamkan di sana, ayahku dimakamkan di sana.. tidak, aku tidak akan pernah meninggalkan negeriku.. orang tidak dapat hidup berdasarkan rasa takut.. orang hanya dapat tetap bertahan kalau ia penuh harap”.
Kedatangan Benazir di London ini ternyata menjadi langkah awal yang sangat tepat. Di sana ia disambut oleh ribuan masyarakat Pakistan di luar lapangan udara Heathrow. Banyak diantara mereka ~ terutama anggota Pakistan People’s Party (PPP) dalam pengasingan ~ meminta bertemu dengan Benazir. Selain sebagai tempat bermukimnya 38.000 orang Pakistan, London memang sekaligus menjadi pusat aktivitas PPP di luar negeri. Bahkan kedua adik laki-laki Benazir, Shanawaz dan Murtaza, juga tinggal di London ketika melancarkan aksi politik mereka guna berjuang membebaskan ayahnya dari penjara dan hukuman mati.
Melihat penyambutan sedemikian, Benazir pun lantas kian sadar bahwa dirinya punya potensi dukungan cukup besar untuk menyusun kekuasaan menentang rezim Zia. Juga atas kenyataan itu pulalah akhirnya selama tinggal di luar negeri Benazir memanfaatkan hidupnya “hanya” untuk mengurusi persoalan-persoalan politik, dalam rangka menyusun kekuatan baru menghadapi rezim militer Pakistan.
Bahkan, Benazir cerdik pula memanfaatkan undangan bekas teman-temannya semasa kuliah guna melakukan kunjungan kerja ke Amerika setelah selesai berobat. Benazir faham betul bahwa Amerika Serikat ~ yang sejak 1979 memberi dana serta publisitas cukup besar pada Pakistan ~ memang penting posisinya untuk membantu melepaskan tawanan politik yang masih mendekam di penjara Pakisan. Sehingga selama di Washington Benazir memanfaatkan semaksimal mungkin kesempatan itu dengan mengemukakan berbagai permasalahan keluarga dan atau negara Pakistan kepada para Senator, termasuk Senator Pell dan Edward Kennedy. Ternyata selama di AS, Benazir memperoleh publisitas yang cukup besar.
Kembali ke Inggris Benazir lantas menyewa flat Barbican, London, yang akhirnya dengan cepat menjadi pusat komando PPP di Eropa. Bersama pendukungnya Benazir menerbitkan pula majalah.
Amal bahasa Urdu yang menyajikan berbagai peristiwa di Pakistan. Sehingga selama satu setengah tahun menetapnya di London waktunya “habis” untuk rapat-rapat politik, kunjungan anggota-anggota PPP dari Pakistan dan sebagainya. Bahkan kalaupun ada kesempatan untuk bertemu keluarga waktunya dimanfaatkan pula untuk mendiskusikan masalah-masalah negaranya dan atau cara-cara terbaik untuk melawan rezim Zia ul-Haq.
Satu hal yang patut dicatat dari berbagai langkah politis selama di pengasingan ini adalah berbeda dari saudara-saudaranya dalam setiap pembicaraan tentang usaha melawan rezim Zia Benazir selalu berpegang pada komitmen untuk menghindari cara-cara kekerasan, yang menurutnya: “Kekerasan akan melahirkan kekerasan.. perubahan iklim menuju demokrasi yang diharapkan permanen, harus melalui jalan damai dan mematuhi aturan politik melalui pemilu yang didukung rakyat”.
Demi melihat Benazir bersaudara sangat aktif mengambil langkah-langkah politis selama di pengasingan, pemerintah Pakistan pun lantas tak tinggal diam terhadap sikap keluarga Bhutto ini. Berbagai langkah aktif dan reaktif juga dilakukan. Terbukti pada 1985 adik bungsu Benazir, Shanawaz, tewas di Riviera, Perancis. Kendati diberitakan bahwa kematian Shanawaz adalah akibat bunuh diri (minum racun) karena telah menggalang kekuatan untuk menggulingkan rezim militer Zia ul-Haq. Memang Shanawaz terjun langsung melatih gerilyawan dan melakukan terror terhadap pemerintahan. Oleh karena itu dia dianggap berbahaya sehingga harus disingkirkan.
Kendati sang adik “terbunuh” oleh lawan politiknya, Dengan dugaan bahwa Shanawaz dibunuh diperkuat oleh ceita Shah sendiri sewaktu masih hidup. Dia pernah cerita bahwa salah seorang keluarga istrinya pernah berusaha meracuni Shah dan Mir sewaktu mereka tinggal di Kabul, Afganistan, dengan tujuan untuk mendapatkan “tanda jasa” dari Zia. Apalagi berdasar pengamatan Benazir, sepeninggal Shawanaz ternyata Rehana (istri Shanawaz) sama sekali tak menampakkan sebagai seorang istri yang baru saja kehilangan suami. Kecurigaan semakin lengkap, setelah pengadilan Perancis menjatuhkan hukuman pada Rehana, karena dituduh tidak segera berusaha memberikan pertolongan (membawa ke rumah sakit) ketika tahu suaminya telah minum racun.
Namun tekad dan keberanian Benazir untuk berhadapan dengan rezim penguasa Pakistan tidaklah surut. Bahkan tak lama setelah jenazah Shanawaz di autopsi (pada Agustus 1985) Benazir justru bertekad pulang, membawa dan mengubur jenazah adiknya pada makam keluarga di Pakistan, dengan menentang berbagai kecemasan dan atau larangan ibu dan saudara-saudaranya. Semula pemerintah Pakistan memang enggan mengizinkan Benazir pulang, mengingat kedatangan Benazir dan jenazah Shanawaz sudah pasti akan membangkitkan emosi para pendukung PPP. Namun kerena kekerasan tekad Benazir pula akhirnya pemerintah Pakistan “terpaksa” mengizinkan Benazir memekamkan Shanawaz di Larkana, kendati dilampiri suatu ketentuan bahwa begitu mendarat di Karachi, jenazah langsung dibawa ke Larkana. Tetapi, betapapun usaha Zia membendung emosi massa pelayat, ternyata ribuan orang tetap berjubel di sekitar makam Al-Murtaza, Larkana. Bahkan tiga hari setelah pemakaman, tatkala Benazir kembali ke Karachi, ribuan orang ~ di airport ~ menyambut dan menyampaikan rasa duka cita. Alhasil, “proses penguburan Shanawaz ini” akhirnya kian menebalkan keyakinan Benazir betapa diri dan keluarga Bhutto punya kekuatab massa sangat potensial untuk mendongkel rezim militer pimpinan Zia.
Pemerintah Pakistan pun sadar akan fakta demikian. Sehingga untuk mencegah kian meluapnya emosi pendukung keluarga Bhutto, maka lima hari setelah tinggal di Pakistan Benazir dikenai tahanan rumah selama 90 hari. Dia dituduh telah mendatangi tempat-tempat yang sensitif di Pakistan, seperti rumah Nasser Baloach dan Ayaz Saramoo, dua pemuda yang terbunuh dalam aktivitas politik mereka. Hanya atas desakan dari luar negeri akhirnya pada 3 November 1985 Benazir dibebaskan dan diizinkan kembali ke luar negeri. Akibat peristiwa itu ternyata Benazir tetap tak jera. Bahkan sebelum ke London kepada para pendukung PPP Benazir berjanji akan kembali ke Pakistan tiga bulan lagi, apapun konsekuensi yang akan dihadapi.

B.     Lanjutan Masa Kepemimpinan Zia ul-Haq
Selama berkuasa Zia ul-Haq berupaya menerapkan Islamic Orde yaitu suatu sistem pemerintahan yang berdasarkan pada Al-Qur’an dan Al-Hadist. Kebijakan demikian tampaknya cukup memenuhi harapan rakyatnya yang mayoritas Muslim. Namun demikian, memerintah secara otoriter di bawah naungan undang-undang darurat tetap tak akan mampu bertahan lama. Karena pada saatnya rakyat “pasti” akan mencapai puncak kejenuhan yang tak mustahil dapat dimanifestasikan dalam berbagai bentuk protes. Zia menyadari kemungkinan ini, dan oleh karena itu iapun berusha melepaskan undang-undang darurat dengan cara mencari dukungan rakyat melalui suatu referendum nosional, pada bulan Desember 1984. Dalam referendum itulah akhirnya Zia memperoleh legitimasi dari rakyat untuk memegang mandat, memimpin Pakistan sampai tahun 1990. Dengan modal referendum ini pula, akhirnya pada Maret 1985 Zia membentuk pemerintah sipil, dengan Mohammad Khan Junejo sebagai Perdana Menteri. Selanjutnya, para gubernur militer di seluruh provinsipun serentak diganti dengan gubernur dari kalangan sipil.
Namun, sebagai politisi yang cerdik, Zia tak mau kehilangan kekuasaan dan otoriteritasnya di kancah perpolitikan Pakistan. Sehingga, meskipun pemerintahan Pakistan dipimpin Junejo, namun Zia masih “bermaksud” memegang kekuasaan tertinggi, dengan tetap memegang jabatan Presiden, Panglima Angkatan Bersenjata, serta tetap menjadi Kepala Staf Angkatan Darat. Dengan cara demikian berarti Zia masih tetap mengontrol jalannya pemerintahan, termasuk khususnya mengawasi secara langsung Angkatan Darat, salah satu unsur paling dominan dalam angkatan Bersenjata.
Bahkan, sebelumnya undang-undang darurat dicabut Zia pun terlebih dahulu mengumumkan beberapa amandemen konstitusi, yang intinya memperkuat kedudukannya sebagai Presiden, Zia pun segera membentuk Dewan Keamanan Nasional (yang beranggotakan 11 orang) yang dipimpinnya sendiri disamping memegang hak penuh untuk menunjuk dan memecat Perdana Menteri, para menteri serta seluruh gubernur. Melalui amandemen Zia mengukuhkan kekuasaan presiden (yang sedang dipegangnya) untuk membubarkan Dewan Nasional dan Dewan Provinsi.
Setelah merasa kedudukannya mantap, barulah (pada 30 Desember 1985) Zia mencabut Undang-undang Darurat, mengembalikan pemerintahan militer kepada pemerintahan sipil, membubarkan pengadilan-pengadilan militer, serta memberlakukan kembali konstitusi yang telah diubah sebelumnya. Banyak personil militer yang sebelumnya duduk dalam jabatan-jabatan sipil segera diganti dengan aparat dari sipil. Suatu kabinet baru juga dibentuk namun tetap dipimpin Junejo, tokoh sipil yang sekaligus menjadi ketua Pakistan Muslem League (PML) yang komposisinya juga telah diubah menurut Zia ul-Haq.
Karena “faktor” Zia masih tetap dominan dalam pemerintahan baru, maka oposisi ~ khususnya Benazir ~ memandang berbagai manuver politik Zia ini hanya sebagai perubahan dalam soal nama belaka. Menurut oposisi, kendati pemerintah sipil telah dibentuk dengan Khan Junejo sebagai Perdana Menteri , tetapi kekuasaan tetap dikendalikan Zia. Sehingga perlakuan terhadap rakyat akan tetap sama. Namun diakui atau tidak, dengan dicabutnya Undang-undang Darurat serta dikeluarkannya janji untuk menegakkan konstitusi, ternyata tetap memunculkan secercah harapan pada Benazir bahwa Zia akan menghadapi dirinya sebagai lawan politik yang setara. Terbukti empat bulan setelah dicabutnya undang-undang darurat, tepatnya pada 10 April 1986, Benazir pulang dari pengasingannya di Inggris.
Kepulangannya ini pulalah akhirnya membuat pengaruh Benazir untuk membangkitkan semangat menentang rezim Zia ul-Haq kian meningkat. Benazir relatif berhasil memanfaatkan wibawa sebagai pewaris nama besar dan atau kharisma mendiang ayahnya, Ali Bhutto. Apalagi mayoritas rakyat Pakistan ~ terutama di pedesaan ~ masih banyak yang buta huruf. Sehingga dengan modal kemahiran berpidato serta ditunjang ilmu pengetahuan yang memadai Benazir dengan relatif mudah dapat mengakumulasi wibawa, mempengaruhi rakyat untuk mentrasfer loyalitas mereka atas Ali Bhutto kepada dirinya, sebagai putri sulung mendiang pendiri PPP itu. Apalagi tipe keagamaan rakyat Pakistan pun masih dominan dengan tipe Muslim Populer yang masih mencampuradukkan tradisi dengan ajaran Islam. Kondisi demikian telah memberi keuntungan tersendiri bagi upaya Benazir itu. Bahkan, di sebagian kelompok elit “barisan sakit hati” pun Benazir mampu menyebarkan pengaruh, terutama akibat kemampuannya memanfaatkan kekecewaan mereka pada beberapa kebijakan Zia ul-Haq. “Elit sakit hati” ini akhirnya bukan sekedar menjauhkan diri dari rezim penguasa, melainkan juga cenderung kerjasama dengan Benazir menjadi oposan bagi pemerintahan Zia.

C.     Gejolak Karir Benazir Bhutto
Tanggal 16 November 1988, dalam sebuah pemilihan umum terbuka pertama dalam waktu lebih dari sepuluh tahun, partai Benazir, PPP, berhasil mendapat jumlah kursi terbanyak di Dewan Nasional. Benazir diambil sumpahnya sebagai Perdana Menteri sebuah pemerintahan koalisi pada 2 Desember 1988 dan dengan usia 35 tahun ia menjadi orang termuda serta perempuan pertama yang memimpin sebuah negara dengan mayoritas rakyatnya beragama Islam di zaman modern. Setelah dipecat oleh presiden Pakistan saat itu dengan tuduhan korupsi, partai Benazir kalah dalam pemilihan umum yang diselenggarakan di bulan Oktober. Ia menjadi pemimpin oposisi sementara Nawaz Sharif menjadi perdana menteri selama tiga tahun berikutnya. Ketika pemilihan umum Oktober 1993 kembali diadakan, yang dimenangkan oleh koalisi PPP, yang mengembalikan Bhutto ke dalam jabatannya hingga 1996, ketika pemerintahannya sekali lagi dibubarkan atas tuduhan korupsi. Benazir dituduh melakukan korupsi namun belakangan namanya dibersihkan. Ia juga dituduh melakukan pencucian uang negara di bank-bank Swiss, dalam sebuah kasus yang masih tetap berada di pengadilan Swiss. Suaminya, Asif Ali Zardari, mendekam selama delapan tahun di penjara, meskipun ia tidak pernah terbukti bersalah. Ia ditempatkan di sebuah tahanan tersendiri dan mengaku mengalami siksaan. Kelompok-kelompok hak-hak asasi manusia juga mengklaim bahwa hak-hak Zardari telah dilanggar. Mantan perdana menteri Nawaz Sharif baru-baru ini meminta maaf atas keterlibatannya dalam penahanan yang berkepanjangan atas Zardari dan kasus-kasus yang diajukan melawan Benazir. Zardari dibebaskan pada bulan November 2004.
Benazir sejak tahun 1999 tinggal dalam pengasingan di Dubai, Uni Emirat Arab dan di sana ia mengasuh anak dan ibunya yang menderita penyakit Alzheimer. Ia juga berkeliling dunia untuk memberikan kuliah dan tetap menjaga hubungannya dengan para pendukung Partai Rakyat Pakistan. Benazir dan ketiga orang anaknya (Bilawal, Bakhtawar, dan Asifa) dipersatukan kembali bersama suami serta ayah mereka pada bulan Desember 2004 setelah lebih dari lima tahun terpisah. Benazir telah bersumpah untuk kembali ke Pakistan dan mencalonkan diri kembali sebagai Perdana Menteri dalam pemilihan umum yang dijadwalkan pada November 2007 mendatang. Tanggal 18 Oktober 2007, ia kembali ke Pakistan untuk mempersiapkan diri mengahadapi pemilu. Dalam perjalanan menuju sebuah pertemuan, dua buah bom meledak di dekat rombongan yang membawanya. Benazir selamat, namun sedikitnya 126 orang tewas dalam peristiwa tersebut.

D.    Pembunuhan Benazir Bhutto
Rentetan peristiwa terus terjadi sebelum terbunuhnya benazir Bhutto, hingga pada tanggal 27 Desember 2007 Benazir Bhutto terbunuh.Ketika Benazir Bhutto mengikuti suatu rapat umum kapanye pemilihan di Rawalpindi. Pada saat ia akan menumpang mobil meninggalkan ruang rapat setelah menyampaikan pidato, seorang laki-laki bersenjata tiba-tiba melepaskan tembakan dan mengenai bagian leher dan dadanya. Penyerang kemudian meledakkan bom pada dirinya. Benazir Bhutto segera dilarikan ke rumah sakit, tapi tidak berhasil diselamatkan dan meninggal pada pukul 18:16 waktu setempat. Selain itu terdapat sekitar 30 orang tewas dalam peristiwa serangan itu. Seorang saksi mata mengatidakan : "Ketika Benazir Bhutto melangkah keluar dari pintu ruang rapat, situasi di luar menjadi kacau, terdengar beberapa kali tembakan dan sekali peledakan, suasana sangat kacau, banyak orang cedera dalam peledakan, mobil Benazir Bhutto juga rusak berat."Setelah terjadinya peristiwa itu, Presiden Pakistan Pervez Musharaf menyatidakan kecaman keras. Dikatidakannya,"Hari ini di Kota Rawalpindi, Nyonya Benazir Bhutto dibunuh oleh kaum teroris yang biadab. Saya sulit menguraikan betapa malangnya peristiwa ini bagi Pakistan. Dengan kesempatan ini, saya menyatidakan rasa sedih dan dukacita kepada keluarga Nyonya Benazir Bhutto. Saya juga menyatidakan rasa simpati kepada mereka yang tidak berdosa yang terbunuh dan serangan ini serta keluarga mereka."Musharaf mengumumkan seluruh negeri berkabung selama tiga hari untuk Benazir Bhutto. Ia meminta pula agar rakyat Pakistan tetap tenang dan menahan  diri. Sementara itu, ia menegaskan kembali tekad pemerintah Pakistan untuk memerangi kekuatan teroris dan ekstrimis. Masyarakat internasional mengecam keras peristiwa serangan itu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Qin Gang menyatidakan, Tiongkok mengecam keras peristiwa teroris itu dan merasa terkejut atas terbunuhnya Benazir Bhutto. Dinyatidakan pula rasa simpati kepada keluarga Benazir Bhutto dan para korban lainnya. Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon dalam pernyataannya mengatidakan, peristiwa itu dilakukan untuk merusak kestabilan dan proses demokrasi di Pakistan. Mereka yang bertanggung jawab harus dijerat oleh hukum. Dikatidakannya,"Saya dengan keras mengimbau masyarakat di Pakistan supaya menahan diri secara maksimal pada saat yang sulit ini demi menjaga persatuan dan perdamaian negara."
Pembunuhan terhadap Benazir memang memunculkan spekulasi tentang siapa yang berada di balik aksi keji tersebut. Banyak kekuatan yang mungkin berada di belakang pembunuhan itu. Dua bulan sebelum kematiannya, wartawan CNN menerima surat elektronik dari Benazir yang dikirim melalui Mark Siegel. Dalam surat itu, ia berpesan, “Kalau saya terbunuh, Presiden Pakistan Pervez Musharaf adalah orang yang paling disalahkan …” Selain itu sebelum terbunuh, Benazir juga pernah menuding beberapa pihak berada di belakang upaya pembunuhan terhadap dirinya, termasuk agen-agen intelijen pemerintah, kelompok militan pro Al-Qaeda, dan kelompok pendukung Zia-ul-Haq. Sementara setelah peristiwa tewasnya Benazir, pemerintahan Musharraf langsung menuding kelompok Al-Qaeda sebagai pelakunya. Suami Benazir, Asif Ali Zardani menuduh ISI (dinas intelijen Pakistan) terlibat dalam serangan yang menewaskan istrinya itu. Banyak kalangan di Pakistan yang sependapat dengan Zardari. Benazir memang punya banyak musuh di negerinya. Namun, sambutan luar biasa pada saat kepulangannya membuktikan dia masih tetap dipuja sebagai pemimpin kendati telah delapan tahun di pengasingan.

E.     Dinasti Bhutto
Dinasti Buttho dikenal dunia sebagai keluarga politisi. Berikut adalah rangkuman sosok dari tokoh-tokoh politik Pakistan dari dinasti Bhutto :
a)      Zulfikar Ali Bhutto
Dinasti politik keluarga Bhutto dibangun oleh Zulfikar Ali Bhutto. Dia lahir di wilayah Larkana yang waktu itu masih dibawah kekuasaan Inggris dan kemudian menjadi wilayah Provinsi Sindh dibawah Pakistan pada tanggal 5 Januari 1928. Ayah Zulfikar, Shah Nawaz Bhutto adalah seorang tuan tanah yang kaya raya sehingga mampu menyekolahkan anaknya ke luar negeri. Selain Zulfikar, Shah Nawaz Bhutto memiliki dua anak laki-laki yaitu Sikandar dan Imdad Ali. Namun kakak-kakak Zulfikar Ali Bhutto meninggal dunia secara mengenaskan. Sikandar meninggal ketika masih kecil akibat menderita gangguan pernapasan dan Imdad Ali meninggal dalam usia 39 tahun pada tahun 1953 akibat penyakit lever. Pada tahun 1947, Zulfikar dikirim untuk menempuh pendidikan tinggi di University of Southern California. Pada tahun yang sama, Nawaz Bhutto terlibat dalam pergolakan politik di wilayah Junagadh yang sekarang wilayah Gujarat India. Nawaz berusaha memasukkan wilayah Junagadh yang dikuasainya ke Pakistan tetapi digagalkan oleh India pada tahun 1947.
Zulfikar kuliah di Universitas Berkeley California dan pada tahun 1949 hingga meraih sarjana ilmu politik. Pada tahun 1950 Zulfikar belajar hukum di The Christ Church Oxford, Inggris. Dia kemudian menikahi Begum Nusrat Ispahani, istri keduanya setelah Zulfikar bercerai dari Shireen Amir Begum. Dari Ispahani, Zulfikar mendapat seorang anak perempuan yang kelak menjadi penerusnya yaitu Benazir Bhutto. Karier politik Zulfikar dimulai pada tahun 1957 ketika dia menjadi anggota termuda dalam delegasi Pakistan yang dikirim ke PBB. Pada tanggal 25 Oktober 1957 dia berbicara di Komite Keenam PBB tentang Agresi dan menjadi pemimpin delegasi Pakistan ke Konferensi PBB tentang Aturan Kelautan 1958. Ditahun yang sama Zulfikar menjadi menteri termuda dalam kabinet Presiden Muhammad Ayub Khan, zulfikar menjadi orang kepercayaan Ayub, walaupun usianya masih muda dan tidak memiliki pengalaman politik. Zulfikar kemudian ditunjuk menjadi menteri luar negeri. Dia mengubah arah kebijakan luar negeri Pakistan yang sebelumnya pro-Barat. Zulfikar sering mengkritik kebijakan AS di wilayah itu. Dia menjalankan politik luar negeri yang merdeka dari dari pengaruh AS. Sebagai sandarannya Zulfikar menjalin hubungan yang sangat baik dengan Cina. Zulfikar juga yakin dengan ide kesatuan Pan Islami yang membuatnya berhubungan erat dengan Indonesia, Arab Saudi, dan negara-negara Arab. Zulfikar bahkan terkenal karena sikapnya yang keras terhadap India.
Ketika terjadi pergolakan hebat di Kashmir dan India, dia mengirimkan pasukan besar ke wilayah itu. Zulfikar mengobarkan semboyan perang dengan berbicara pedas terhadap India dalam Sidang Dewan Keamanan PBB. Zulfikar menuding India melakukan agresi dan menyatidakan, “kami akan berperang selama seribu tahun !” lalu Zulfikar merobek-robek berkas DK PBB dan beranjak dari hadapan sidang. Akibatnya, Pakistan dan India terlibat dalam peperangan hebat yang mengkhawatirkan bagi AS, Inggris, dan Uni Soviet. Perang baru mereda setelah PBB turun tangan. Zulfikar kemudian mendampingi Presiden Ayub Khan dalam negosiasi dengan India. Negosiasi itu menyepakati bahwa masing-masing negara mundur ke garis batas sebelum perang. Perjanjian damai itu tidak disambut baik oleh Zulfikar dan sebagian besar rakyat Pakistan. Karena kritik-kritik terhadap Ayub, Zulfikar mulai disisihkan dan akhirnya dia menjadi tokoh oposisi terhadap pemerintahan Ayub. Setelah mundur dari kabinet, Zulfikar mendirikan Partai Rakyat Pakistan yang mendapat dukungan besar dari rakyat. Partai ini pula yang kemudian rajin melakukan demonstrasi dan pemogokan sehingga Ayub Khan kemudian mengundurkan diri dari jabatannya.tongkat kepemimpinan Pakistan diserahkan kepada Jenderal Yahya Khan yang kemudian menggelar pemilu pada 7 Desember 1970. Dalam pemilu itu Partai Rakyat Pakistan menang di wilayah Pakistan Barat, sementara di Pakistan Timur, Liga Awami pimpinan Sheikh Mujibur Rahman meraih suara terbanyak. Kekuatan politik Pakistan terpecah. Liga Awami menolak tawaran Zulfikar untuk berkoalisasi dan malah membentuk Dewan Nasional yang kemudian menginisiasi lahirnya negara Bangladesh. Atas intervensi India, kekuatan tentara Pakistan di wilayah timur dikalahkan dan negara Bangladesh pun lahir. Zulfikar menyalahkan kebijakan Yahya Khan atas kemerdekaan Bangladesh. Tekanan rakyat terhadao pemerintah pun semakin keras. Akhirnya Yahya mengundurkan diri dan menyerahkan tongkat kepemimpinan Pakistan kepada Zulfikar. Di masa kepemimpinannya, Pakistan tidak menjadi lebih damai. Langkah politik dan kebijakannya banyak yang kontroversial. Dia melakukan perjanjian damai dengan India untuk membebaskan 93.000 tawanan perang Pakistan di India. Dalam perjanjian itu Zulfikar dianggap terlalu banyak memberi konsesi kepada India. Di sektor bisnis, Zulfikar dianggap meresahkan karena menasionalisasi perusahaan industri berat. Dia juga dianggap berkhianat karena mengakui keberadaan negara Bangladesh dan menabur bunga di makam pahlawan kemerdekaan Bangladesh.
Ketika situasi semakin tidak menentu, Zulfikar dituduh menghilangkan nyawa lawan-lawan politiknya. Situasi Pakistan semakin tegang, lalu dia menunjuk Jenderal Zia-ul-Haq untuk menjadi panglima angkatan bersenjata. Zulfikar juga mulai menetapkan kebijakan mengembangkan senjata nuklir. Penolakan atas kepemimpinan Zulfikar semakin kuat. Tiba-tiba saja Zia-ul-Haq melakukan kudeta dan menangkap Zulfikar. Dia ditahan dan diadili dengan berbagai tuduhan pembunuhan. Zulfikar kemudian dihukum gantung pada tanggal 4 April 1979. Zia-ul-Haq menolak permohonan yang diajukan berbagai kepala negara di dunia untuk membatalkan hukuman gantung itu. Sepeninggal Zulfikar, kunci kepemimpinan Partai Rakyat Pakistan diserahkan istrinya, Nusrat Ispahani Bhutto. Nusrat kemudian berjuang mempertahankan partai itu dibawah tekanan pemerintahan Zia-ul-Haq dan mempersiapkan Benazir sebagai penerus ayahnya. Cita-cita Nusrat terjawab pada tahun 1988, nyaris sepuluh tahun sejak kematian Zulfikar, ketika Benazir dilantik menjadi Perdana Menteri Pakistan dan dikenal sebagai perempuan pertama yang memimpin negara muslim. Namun kerasnya kehidupan politik Pakistan memaksa Benazir untuk turun dari jabatannya 20 bulan kemudian. Berbagai tuduhan korupsi dialamatkan kepadanya. Benazir sempat terpilih kembali sebagai perdana menteri pada tahun 1993 tetapi disingkirkan oleh Presiden Farooq Leghari.

b)      Benazir Bhutto
Benazir Bhutto dilahirkan di Karachi tanggal 21 Juni 1953. Ia dikenal dunia sebagai politisi Pakistan yang menjadi perempuan kepala pemerintahan pertama dalam sejarah Pakistan. Dari Dinasti Bhutto, Benazir menjadi penerus terakhir kejayaan politik ayahnya. Ia terpilih dua kali sebagai perdana menteri yaitu pada periode 1988-1990 dan 1993-1996. Benazir muncul sebagai tokoh perempuan muda yang glamor dalam kehidupan pribadinya sekaligus keras di panggung politik. Tekad kuat dan sikap keras kepala Benazir mulai tampak ketika ayahnya dipenjara dan kemudian didakwa melakukan pembunuhan pada masa pemerintahan Jenderal Zia-ul-Haq. Oleh karena itu Benazir berang dan sangat mendendam kepada militer. Di masa kecil dan remajanya, Benazir belajar di Lady Jennings Nursery School dan Sekolah Perempuan Jesus and Mary di Karachi, Pakistan. Seterusnya di Rawalpindi Presentation Convent. Ia lulus O-level ketika berumur 15 tahun. Benazir lulus dari Harvard University pada tahun 1973 dan dari Universitas Oxford pada tahun 1977. Hebatnya pada tahun 1976 ia menjadi perempuan Asia pertama yang memimpin kelompok elite bernama Oxford Union. Ia pun langsung menarik perhatian media di seluruh dunia.
Setelah ayahnya dieksekusi pada tahun 1979 oleh rezim militer Zia-ul-Haq, Benazir secara tidak resmi menjadi pimpinan sementara Partai Rakyat Pakistan. Namun ia dikenai penahanan rumah pada tahun1979-1984. Benazir dan ibunya bahkan pernah dijebloskan ke penjara walaupun ia juga sempat diizinkan ke luar negeri untuk menjalani pemeriksaan medis tahun 1984. Pada Agustus 1988, Presiden Zia-ul-Haq tewas dalam kecelakaan pesawat terbang. Akibatnya terjadi kekosongan kekuasaan di Pakistan. Dalam pemilu yang dilakukan kemudian, Partai Rakyat Pakistan memenangkan mayoritas kursi di Dewan Nasional yang berujung pada pengangkatan Benazir Bhutto sebagai perdana menteri pada tanggal 1 Desember 1988. Benazir Bhutto menjadi perempuan muslim pertama di dunia yang menjadi perdana menteri. Pada awalnya Benazir Bhutto sangat populer dan dilihat sebagai tokoh yang sangat berbeda dengan pemerintahan militer. Tetapi dua kali masa jabatannya sebagai perdana menteri berakhir dengan pemecatannya atas dakwaan korupsi. Dia meninggalkan kantor perdana menteri dengan reputasi yang hancur. Ketika memerintah, Benazir selalu menyuarakan isu-isu tentang perempuan, kesehatan, dan diskriminasi terhadap perempuan. Ia menyatidakan akan membentuk kesatuan polisi yang anggotanya adalah perempuan, juga mahkamah dan bank pembangunan yang dikelola perempuan. Namun tidak satupun niatnya terwujud di Pakistan. Selama berkuasa, Benazir membangun sekolah-sekolah di seluruh negeri, dan listrik pun berhasil dialirkan ke daerah-daerah pedesaan. Kelaparan, perumahan, dan layanan kesehatan menjadi prioritas utamanya. Meskipun ia telah melakukan banyak hal baik untuk rakyatnya, namun bukan berarti semua orang menyukainya. Selama berkuasa, Benazir banyak menghadapi perlawanan dari gerakan-gerakan Islam ekstrem yang tidak menyukai kepemimpinan seorang perempuan apalagi gaya kepemimpinannya cenderung liberal.
Pemerintah Sharif dengan gencar melancarkan tuduhan korupsi terhadap Benazir Bhutto. Benazir dan suaminya, Asif Ali Zardari seorang pebisnis dan senator kontroversial dipenjara tahun 1996. Dalam pengadilan di Lahore keduanya menjadi terpidana kasus korupsi. Benazir didakwa menyalahgunakan uang negara melalui Bank Swiss. Semasa dipenjara ia mengaku disiksa. Asif dibebaskan pada tahun 2004 namun kemudian dituduh lagi mencuri uang negara. Pada tahun 2004, suami Benazir dibebaskan dari penjara dab bergabung dengannya di pengasingan. Baru beberapa saat sebelum dilangsungkan pemilu 2007, dimulailah pembicaraan mengenai kemungkinan kembalinya Benazir Bhutto ke Pakistan. Pada Oktober 2007, Benazir bisa kembali ke Pakistan setelah delapan tahun hidup di pengasingan di Dubai. Tapi ancaman terhadapnya tidak pernah surut. Selain pemerintah, banyak pihak yang kurang menyukainya. Maka tidak heran bila kepulangannya disambut dengan ledakan bom yang nyaris merenggut nyawanya. Dalam peristiwa tersebut, musuh-musuh Benazir bersumpah akan terus melancarkan serangan bila ia menyusun kekuatan lagi. Sumpah itu dibuktikan hari kamis 27 Desember 2007 ketika tembakan dan ledakan bom mengakhiri perjalanan Benazir Bhutto dalam kancah politik Pakistan . Ia tewas bersama puluhan orang yang mengikutinya.
Setelah Indira Ghandhi di India, Benazir Bhutto adalah perempuan pemimpin kedua yang terbunuh di Asia Selatan. Ia juga merupakan perdana menteri kedua di Pakistan yang tewas dibunuh setelah perdana menteri Liaquat Ali Khan dibunuh pada tahun 1951 di Rawalpindi saat berpidato di depan massanya. Setelah Benazir tewas, Presiden Musharraf mengakui kharisma dan pengaruh yang dimiliki Benazir. Perjalanan hidup dan karier politiknya memang seperti arti nama Bhutto yaitu unik.

c)      Shahnawaz Bhutto
Dia adalah saudara laki-laki Benazir Bhutto yang juga terjun dalam dunia politik.  Pembawaanya lebih tenang dan tidak memilih cara-cara keras seperti Mir Murtaza, saudaranya selain Benazir. Namun tahun 1985, shahnawaz tewas diracun di apartemennya di Riviera, Prancis Selatan.

d)      Mir Murtaza Bhutto
Murtaza juga saudara laki-laki Benazir Bhutto yang aktif dalam politik. Dia lama tinggal di Afghanistan setelah ayahnya dipenjarakan oleh Zia-ul-Haq. Di Afghanistan, Murzata memimpin perlawanan terhadap militer Pakistan melalui kelompok bersenjata yang bernama Al Zulfikar. Pada tahun 1993, Murzata kembali ke Pakistan dengan maksud mengikuti pemilu. Di Pakistan dia malah menyerang suami Benazir dengan tuduhan korupsi. Tahun 1996, Murzata dituduh terlibat dalam aksi teror. Konon dia juga manjadi aktor intelektual peristiwa pembajakan pesawat terbang Pakistani Airlines. Setelah dibebaskan dari penjara, Murtaza mengikuti pemilu dan memenangi kursi parlemen Sindh. Pada tanggal 19 September 1996, Murtaza Bhutto ditembak mati bersama enam pemimpin partai yang lain di rumahnya di Karachi. Suami Benazir dituduh membunuhnya dan kasus ini tidak terungkap hingga sekarang.

e)      Asif Ali Zardawi
Asif Ali Zardari adalah suami Benazir Bhutto. Dia sering memainkan peran-peran kunci dalam administrasi pemerintahan Benazir. Banyak pakar percaya bahwa turunnya Benazir dari tampuk perpolitikan cenderung disebabkan oleh ketamakan suaminya. Zardari juga dituduh terlibat dalam rekayasa kematian Murtaza Bhutto. Pada tahun 1998, Daniel Devould seorang hakim di Jenewa menuduh Benazir dan suaminya terlibat pencucian uang hasil korupsi di Pakistan dengan membeli perhiasan seharga lebih dari 190.000 dolar AS di Swiss. Pengadilan tinggi Lahore di Rawalpindi menjatuhkan vonis lima tahun penjara kepada Benazir dan Zardari atas dakwaan menerima sogokan dari maskapai Swiss SGS yang disewa pemerintah Pakistan untuk mencegah pengelakan pajak oleh eksportir di negeri itu. Pada waktu itu Benazir sudah lebih dulu ke luar negeri sehingga suaminya yang sedang menjalani hukuman penjara untuk kasus-kasus korupsi lain justru diperpanjang hukuman penjaranya. Tidak ada satupun diantara 18 tuduhan korupsi terhadap Zardari yang benar-benar terbukti di pengadilan. Meski begitu dia sempat mendekam dalam penjara selama delapan tahun. Dia dibebaskan dari penjara pada tahun 2004 dengan jaminan. Sesudah bebas dari oenjara, Zardari tetap mengelola asetnya di Inggris.
Dalam wawancara di televisi nasional Pakistan pada tahun 2005, Zardari mengatidakan bahwa militer telah menawarkan untuk membebaskannya dan mencabut semua tuduhan terhadap dirinya bila ia setuju untuk meninggalkan dunia politik dan pergi dari Pakistan namun Zardari menolak. Kemudian Musharraf menandatangani sebuah amnesti dan mencabut segala tuduhan korupsi terhadap Benazir dan suaminya. Pada tahun 2007 Benazir memutuskan untuk kembali ke Pakistan. Namun ketika Musharraf pada tanggal 3 November 2007 menyatidakan negara dalam keadaan darurat, Benazir dikenakan tahanan rumah.






BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Benazir Bhutto (kelahiran Karachi, Pakistan, 21 Juni 1953) merupakan wanita pertama yang memimpin sebuah negara Muslim di masa pasca kolonial. Bulan Juni 1973, Benazir lulus dari Harvard dengan gelar dalam ilmu politik. Ia juga terpilih sebagai anggota Phi Beta Kappa. Pakistan adalah negara yang muncul diatas peta dunia pada 14 Agustus 1947. Negara ini lahir dari aspirasi umat islam india untuk mendirikan pemerintahan yang memungkinkan mereka untuk hidup sesuai dengan prinsip dan ajaran islam. Momentum ini tampak jelas dalam pernyataan Muhammad Ali jinnah, tokoh pendiri pakistan, “kita tidak memperjuangkan berdirinya Pakistan hanya untuk mendapatkan sebidang tanah, tetapi kita menginginkan suatu wilayah yang membuat kita bisa menerapkan prinsip dan ajaran islam”.
Rentetan peristiwa terus terjadi sebelum terbunuhnya benazir Bhutto, hingga pada tanggal 27 Desember 2007 Benazir Bhutto terbunuh. Ketika Benazir Bhutto mengikuti suatu rapat umum kapanye pemilihan di Rawalpindi. Pada saat ia akan menumpang mobil meninggalkan ruang rapat setelah menyampaikan pidato, seorang laki-laki bersenjata tiba-tiba melepaskan tembakan dan mengenai bagian leher dan dadanya. Penyerang kemudian meledakkan bom pada dirinya. Benazir Bhutto segera dilarikan ke rumah sakit, tapi tidak berhasil diselamatkan dan meninggal pada pukul 18:16 waktu setempat.



B.     Saran
Sebagai seorang mahasiswa pendidikan sejarah, sudah selayaknya kita dapat memahami peran para tokoh dunia yang ingin berusaha menggerakkan dan membangun negaranya. Selain itu perlu kita pahami pula bagaimana adanya kudeta-kudeta dalam pemerintahan suatu negara.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar