BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam suatu negara tidak
disangsikan dengan adanya sebuah pemerintahan. Pemerintahan tersebut tidak
jarang adanya kudeta-kudeta yang saling menghancurkan kekuasaan satu sama lainnya
yang dapat mengakibatkan perpecahan. Selain itu akan muncul konflik dimana-mana,
dan pasti akan muncul tokoh-tokoh di dalamnya.
Sejak kemerdekaan Pakistan
tahun 1947, negeri ini digerogoti oleh berbagai unsur disintegrasi.
Disintegrasi itu bervariasi dari hal agama, etnis dan sederet daftar konflik
lainnya. Hal ini membuat negeri yang diimpikan oleh mendiang penyair dan
filosof terkenal, Muhammad Iqbal untuk mampu memberikan kesejahteraan bagi kaum
Muslim ini akhirnya dilanda kesulitan berkepanjangan.
Pakistan yang berhasil
“didirikan” Ali Jinnah ini, memang berpenduduk multietnis. Pada awal
kemerdekaannya tahun 1947 masyarakat Pakistan terdiri atas Sindh, Punjab, Baluchistan, Pathan, Mojahir yang
semuanya tinggal di Pakistan Barat. Sementara di Pakistan Timur yang wilayahnya lebih sempit
dihuni oleh kaum Bengali dan Bihar. Pada akhir 1970 Pakistan Timur memisahkan
diri menjadi Bangladesh lewat perjuangan berdarah.
Problema keagamaan bukan
berkisar soal sekte saja, melainkan pula pada soal interpretasi dan menyikapi
pembangunan dan modernisasi. Di Pakistan setidaknya terdapat tiga kelompok
keagamaan, yakni : kaum Islam sentralis, Islam populer dan Islam sekuler. Islam
sentralis ingin menerapkan syariat Islam secara utuh ke dalam kehidupan
bermasyarakat dan bernegara. Mereka menentang bukan saja ide pemisahan agama
dan politik, melainkan juga pada sikap mencampur adukkan antara Islam dengan
unsur-unsur budaya masyarakat yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai
Islam. Sebagaimana Islam Sentralis, kaum Islam Populer juga ingin menerapkan
syariat Islam secara lengkap, namun tanpa mengabaikan kultur masyarakat yang
ada, seperti budaya pengkultusan seorang wali/kyai dan para keturunannya.
Padahal hal-hal semacam itu adalah sangat ditentang oleh Islam Sentralis yang
melihatnya sebagai khurofat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.
Sedangkan kaum Sekunder jelas menolak diterapkannya syariat Islam ke dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara. Bagi kelompok ketiga ini, agama adalah
merupakan persoalan individu. Bila negara telah menerapkan jiwa keadilan,
demokrasi, dan penegakan hukum, maka sebenarnya negara telah menerapkan prinsip
dan nilai-nilai Islam.
Ketiga kelompok berhadapan satu
sama lain dalam memperjuangkan idenya. Pola persaingan antara ketiga pemahaman
berbeda ini akhirnya terefleksi pula pada kehidupan sosial politik, termasuk
pula dalam afiliasi kepartaian. Akibatnya, siapapun yang berkuasa akhirnya tak
dapat mengabaikan isu keagamaan ini. Islam, selalu dipakai alat untuk
mempertahankan dan menggoyahkan kekuasaan. Penguasa memakai isu Islam untuk
mempertahankan kekuasaan. Sebaliknya oposisipun memakai isu Islam untuk
menggoyahkan kekuasaan. Ayub Khan misalnya, kendati memakai isu “Modernisme
Islam” dalam kebijakannya ternyata tetap mendapat tantangan keras dari
tokoh-tokoh agama. Ali Bhutto yang melontarkan kebijakan “Sosialisme Islam”
akhirnya mengalami nasib yang sama dengan Ayub, dicerca aliansi penentang
dengan bendera Islam pula. Dan yang tak kalah menarik, Zia ul-Haq yang terkenal
sebagai figur yang taat beragama, kebijakan “Nizamul Islam” yang dilancarkannya
ternyata juga tidak sepi dari tantangan berargumentasikan dan berdalih
keagamaan pula.
Akibat berbagai perseteruan
berdimensi primordialisme etnik dan keagamaan ini akhirnya mengantarkan
Pakistan pada situasi instabilitas dan berkesudahan. Telah sekian pemimpin
negeri itu tewas akibat persaingan politik yang berlatar etnis, agama, dicampur
aduk dengan interest (kepentingan) pribadi untuk berkuasa. Berpijak pada
instabilitas tak berkesudahan inilah akhirnya militer punya alas an yang cukup
untuk turut campur menangani kehidupan politik. Kemelut politik di Pakistan
telah menjadi agen sosialisasi politik yang ampuh bagi militer untuk akhirnya
terlibat langsung bahkan mengendalikan perpolitikan Pakistan. Yahya Khan, Ayub
Khan, dan Zia ul-Haq adalah jendral-jendral yang sempat berkuasa di Pakistan.
Kini, terdapat tiga actor utama
(troika) dalam perpolitikan Pakistan: militer, presiden, dan perdana menteri.
Namun, banyak analisis berpendapat sentrum dari ketiga kekuasaan tadi tetap
dikendalikan militer. Sehingga, siapapun yang ingin menjadi pemimpin Pakistan
dia haruslah mendapatkan “restu” dahulu dari militer. Disinilah Benazir Bhutto
sedang diuji. Yang menarik, pertentangan politik dalam negeri Pakistan yang
bersumber dari visi agama (Islam) telah menyumbang andil potensial bagi
disintegrasi Pakistan sebagai suatu bangsa. Sukses Benazir Bhutto keluar dari
berbagai kemelut itu akan memperkokoh namanya sebagai seorang negarawati Islam
di sebuah negara Muslim. Namun, kepemimpinan Benazir tampaknya tidak berjalan
mulus. Pemecatan Benazir sebagai Perdana Menteri oleh Presiden Farooq Ahmed
Leghari menunjukkan sekali lagi bahwa ia berhadapan dengan berbagai “batu
sandung”.
Sehingga untuk mengapresiasikan
dan menambah wawasan, dalam makalah ini penulis mencoba menjelaskan mengenai
sosok Benazir Bhutto yang disanjung namun dibenci tersebut. Serta masa
kepemimpinannya dan akhir hidupnya.
B.
Rumusan Masalah
Pada
makalah ini penulis akan membahas masalah :
1.
Bagaimana
riwayat hidup atau biografi dari Benazir Bhutto ?
2.
Bagaimana
pemerintahan Dinasti Bhutto ?
3.
Tragedi
apa saja yang terjadi di Pakistan saat adanya konflik Pakistan ?
4.
Siapa
pembunuh Benazir Bhutto ?
C.
Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan
penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1.
Untuk
mengetahui daftar riwayat hidup atau biografi dari seorang Benazir Bhutto.
2.
Untuk mengetahui tentang
pemerintahan dinasti Bhutto.
3.
Untuk mengetahui konflik
apasaja yang terjadi di Pakistan.
4.
Untuk mengetahui siapa pembunuh
Benazir Bhutto.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Benazir Masuk Ke Gerbang Politik
Benazir (dalam bahasa
Pakistan berarti: tidak ada duanya) lahir tanggal 21 Juni 1953, dari pasangan
sebuah keluarga tuan tanah ~ Ali Bhutto dengan istri keduanya Begum Nusrat ~ di
Larkana, Sindh, sebuah provinsi terbesar kedua di Pakistan bagian Selatan. Ia
dibesarkan dalam lingkungan masyarakat yang mayoritas masih buta huruf,
masyarakat feodal yang (waktu itu) masih cenderung memandang wanitasejenis
perabot keluarga, dimana laki-laki ke luar rumah mencari nafkah dan wanita
cukup mengurus rumah tangga. Pembagian kerja demikian oleh masyarakat Pakistan
dipercaya sebagai telah diatur oleh alam secara luhur dan adil, dan oleh karena
itu harus dipertahankan.
Kepercayaan demikian
lebih diperkuat oleh interpretasi sebagian Ulama Pakistan ~ yang 97%
penduduknya beragama Islam itu ~ bahwa ajaran Islam tidak mengijinkan pria
menjadikan wanita sebagai imam dalam shalat berjama’ah (bersama). Sehingga
sebagai konsekuensi kiasnya, seorang wanita tak diperkenankan menjadi pimpinan,
termasuk dalam pemerintahan. Karakteristik masyarakat feodal (dengan masyarakat
didominasi kaum pria) ini akhirnya menyebabkan terhambatnya mobilitas hidup di
kalangan wanita. Wanita cenderung tertinggal dalam banyak hal, termasuk bidang
pendidikan.
Namun, justru dalam situasi demikian ternyata Benazir
berhasil memperlihatkan perbedaan mendasar dalam latar belakang kehidupannya.
Benazir mengalami proses Sosialisasi, Internalisasi dan Enkulturasi secara lebih menguntungkan disbanding umumnya wanita
Pakistan. Nilai-nilai yang tertanam dalam diri Benazir ini ~ baik yang
diperoleh karena usaha aktif lewat bangku sekolah maupun dari berbagai
pengalaman hidup yang ia alami ~ sangat berpengaruh dalam membentuk
watak/kepribadiannya baik sebagai seorang individu maupun sebagai anggota
masyarakat serta membedakannya dengan kebanyakan wanita Pakistan.
§
Akulturasi Nilai
Berbeda dengan mayoritas rakyat
Pakistan yang hidup dalam kemiskinan, sebagai anak Ali Bhutto ~ dengan latar
belakang keluarga tuan tanah yang kaya ~ kehidupan Benazir tak pernah
kekurangan materi. Apalagi Ali Bhutto pun adalah pejabat tinggi yang luas
pergaulan dan pengalamannya, yang oleh sebab itu dia punya sikap berbeda dari
umumnya keluarga Pakistan dalam urusan pendidikan anak-anaknya. Bhutto yang
dikenal berpandangan cenderung sekuler bersikap sangat moderat dalam mendidik
anaknya. Bahkan walaupun berasal dari keluarga Muslim, Benazir diperkenankan
menamatkan pendidikan menengahnya di sekolah-sekolah Katholik. Sehingga tak
ditutupi lagi Benazir pun pernah menghadiri misa di sekolah dan atau gereja.
Setelah tamat sekolah
menengahnya pada usia sangat muda (16 tahun) Benazir telah dikirim ke Amerika
untuk melanjutkan pendidikannya di Radclieffe College, sekolah Khatolik khusus
wanita di bawah bendera Harvard
University. Di Amerika dalam waktu relatif singkat ternyata Benazir sudah
mampu menemukan pribadinya dalam menghadapi budaya Barat yang sangat berbeda
dari budaya Pakistan. Sehingga ia segera dapat aktif terlibat dalam berbagai
kegiatan, termasuk ikut berpartisipasi dalam demonstrasi anti Perang Vietnam,
dan naik subway untuk menonton film-film prcintaan. Bahkan bagaimana para
mahasiswi lain, ia pun suka menghadiri pesta-pesta dan bercakap-cakap secara
intim dengan teman-teman prianya. Benazir lebih sering tampak dengan Blue Jeans dan Sweters daripada
Salwar-kemeez pakaian nasional Pakistan.
Di kampusnya Benazir dikenal
sebagai orator ulung. Bakatnya sebagai orator semakin terlihat terutama setelah
Benazir melanjutkan kuliah di Oxford
University, Inggris. Bahkan Benazir akhirnya terpilih menjadi pimpinan Oxford Union, sebuah kelompok diskusi di
kampus Oxford, setahun setelah ia lulus dari perguruan tinggi terkenal itu.
Jiwa Benazir mengalami
percampuran (akulturasi) budaya
antara nilai-nilai Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan dengan
nilai-nilai sekuler Barat, antara nilai-nilai feodal masyarakat Pakistan dengan
nilai-nilai kebebasan Barat. Akulturasi demikian akhirnya membentuk Benazir
pada suatu pribadi “mendua”, dalam arti tak mempunyai keterkaitan kuat terhadap
suatu nilai tertentu, baik dalam Islam, adat-istiadat Pakistan, maupun
nilai-nilai sekuler Barat. Dalam hidupnya Benazir pun cenderung berusaha
“mengawinkan” berbagai nilai yang telah tersosialisasi,
terinternalisasi, dan terenkulturasi
dalam dirinya itu.
Sehingga orientasi nilai
yang dianut Benazir pun akhirnya lebih merupakan kaitan dan atau kompromi
antara sistem keyakinan yang dianutnya dengan cita-cita yang ingin diraihnya.
Keyakinannya dapat dikendorkan dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan.
Bahkan, kadang kala Benazir nampak berupaya merasionalisasikan nilai-nilai yang
dia anut dalam rangka mencapai apa yang ingin dicapainya. Antara keyakinan dan
keinginan (harapan) seolah-olah dapat dikompromikan. Hal ini dimungkinkan, karena
Benazir memang tak memiliki dan atau mengikuti suatu keyakinan (nilai dasar)
yang mendarah daging dan eksklusif.
§
Sang Putri Mahkota
Mungkin tak berlebihan
untuk dikatakan bahwa Benazir sebenarnya telah mulai kenal dunia politik sejak
ia masih “kanak-kanak”. Hal ini dimungkinkan mengingat ayahnya, Ali Bhutto,
sudah menjabat pos-pos penting di pemerintahan. Pakistan (mulai dari Menteri
Luar Negeri, Ketua Delegasi Pakistan di PBB, dan akhirnya sebagai Perdana
Menteri) tatkala Benazir masih kecil.
Apalagi untuk menambah
pengetahuan anak-anaknya, Ali Bhutto pun telah terbiasa mendongengi mereka
dengan cerita tokoh-tokoh dunia seperti Alexander Agung, Napoleon, dan
lain-lain. Kebiasaan demikian secara tidak langsung telah menjadi ajang sosialisasi politik ~ proses-proses
pembentukan sikap-sikap politik dan pola-pola tingkah laku, juga merupakan
sarana bagi suatu generasi untuk ‘mewariskan’ patokan dan keyakinan-keyakinan
politik generasi sesudahnya ~ pada diri Benazir yang menurut istilah dari Hess dan Torney disebut sosialisasi dengan model alih antar pribadi
(interpersonal).
§
Politisi Wanita
Pada Juli 1977 terjadi
perebutan kekuasaan oleh Jendral Zia ul-Haq, yang berujung pada dieksekusinya
Ali Bhutto karena dituduh terlibat pembunuhan politik. Tewasnya sang ayah pada
4 April 1979 itu kendati telah menghancurkan hampir seluruh kebahagiaan diri
dan keluarganya, namun tidaklah membuat Benazir larut dalam kesedihan.
Peristiwa itu justru dijadikan fundamen bagi titik balik kehidupan Benazir
untuk mulai terjun dalam kehidupan politik, menentang pemerintahan Zia ul-Haq
yang dianggap telah memporak-porandakan kehidupan Demokrasi.
Dengan kata lain,
kematian Ali Bhutto telah memicu terjadinya suatu resosialisasi pada diri
Benazir terhadap kehidupan politik. Mulanya, Benazir tak terlalu suka terlibat
dalam urusan politik praktis. Namun setelah terjadi malaise sosial politik yang berujung pada kematian sang ayah,
akhirnya Benazir berbalik arah menjadi sangat terlibat dalam politik. Benazir
yang mulanya hanya “seorang gadis manja”, akhirnya harus berhadapan dengan
kerasnya politik Pakistan. Bahkan dalam hal resosialisasi ini Benazir
menyatakan : “Yang utama dalam kehidupanku adalah politik, baru yang
lain-lain..Kewajibanku yang utama adalah untuk demokrasi di negaraku”.
Hanya akibat dendam atas
terbunuhnya sang ayah Benazir akhirnya berani untuk berusaha membongkar segala
“kebobrokan” pemerintahan Zia ul-Haq yang disebutnya telah memporak-porandakan
kehidupan demokrasi. Benazir diubah oleh beratnya “beban” moral perjuangan di
masa-masa susah akibat kematian sang ayah. Sebab, sebenarnya tidak sedikitpun
perhatian sehari-harinya di masa kuliahnya mengisyaratkan bahwa ia akan
mempunyai keberanian untuk terjun ke kancah politik.
Akibat resosialisasi
politiknya itu, Benazir akhirnya harus “mengenal” kehidupan penjara pada tahun
1978 akibat menghina rezim penguasa dalam berbagai pidatonya. Setahun kemudian
dia ditahan lagi karena melakukan rapat gelap, di samping menimbulkan kerusuhan
dan berbuat makar. Juga awal tahun 1981, Benazir yang belum lama dilepas dari
tahanan akhirnya berurusan lagi dengan penjara tak lama setelah kelompok
al-Zulfikar ~ kekuatan anti pemerintah yang dibentuk kedua anak laki-laki Ali
Bhutto dalam pengasingan di Afghanistan ~ membajak pesawat milik Pakistan. Pembajakan
itu memaksa Zia melepaskan sejumlah tahanan politik untuk menyelamatkan
sandera.
Semula Benazir “sedikit
senang” ketika mendengar akan dijebloskan dalam penjara. Dia berharap di
penjara akan dapat bertemu dengan para tahanan politik lainnya. Namun, ternyata
Benazir dikurung dalam suatu sel tersendiri di penjara Sukkur. Alhasil, selama
di penjara Benazir pun berulangkali jatuh sakit, bukan karena konon penjara itu
suhunya mencapai 49°C bila badai panas melanda Karachi, melainkan terutama
karena didera rasa kecewa akibat harapannya yang kandas. Namun kebribadian dan
semangat Benazir ternyata cukup kuat. Sehingga kendati ruang lingkupnya menjadi
terbatas karena dipaksa untuk meringkuk dalam penjara dan atau terkena tahanan
rumah, namun amarah dan kenangan kepada mendiang ayahnya telah menyebabkan
Benazir mampu bertahan.
Uraian tersebut telah
menggambarkan, bahwa sosialisasi politik
yang dialamu Benazir, baik melalui model
akumulasi yaitu lewat informasi-imformasi politik, termasuk yang dia
peroleh selama kuliah politik secara teoritis, maupun model alih antar pribadi ~ berkaitan dengan masa maksimum
pembentukan kepribadian politiknya, yaitu masa tatkala Benazir paling
menghayati nilai-nilai politik ~ ternyata menjadi struktur nilai-nilai yang
mendalam, kukuh dan sulit berubah. Hal ini terlihat dari sikap Benazir yang
secara kokoh berusaha mengawinkan nilai-nilai yang ia peroleh dari dunia barat
yang sekuler, Islam yang integral (kaffah), dan nilai budaya Pakistan yang
masih feodal.
Akhirnya, keyakinan Benazir
ini secara jelas dimanifestasikan ke permukaan. Dengan dibakar dendam atas
kematian ayahnya, Benazir menciptakan suatu Frame
Works of Power ~ yang menurut John Franch dan Bertram Revem ~ dengan cara
(model) identifikasi diri terhadap
orang yang sangat dikaguminya, dan kebetulan ayahnya sendiri, Ali Bhutto.
§
Tahun-tahun di Pengasingan
Setelah mendapat desakan
dari banyak negara khususnya Amerika Serikat, akhirnya (setelah 3 tahun
meringkuk dalam penjara) pada Januari 1984 Benazir diizinkan meninggalkan
Pakistan. Kepergian Benazir ke luar negeri ini di prediksikan banyak pihak
bukan sekedar akan dimanfaatkan untuk mengobati infeksi telinganya yang semakin
parah, ataupun hanya untuk menyusul sang ibu yang tahun 1982 telah lebih dulu
mendapat izin berobat ke luar negeri karena kangker paru-paru yang di
deritanya. Lebih dari itu, Benazir diduga akan memanfaatkan “pengasingannya”
ini untuk menjajaki situasi serta untuk menyusun kekuatan baru guna menentang
rezim militer pimpinan Zia ul-Haq. Ternyata dugaan demikian tidak terlalu
meleset. Kepahitan hidup selama di penjara telah membuat Benazir menjadi wanita
tabah dan berani. Bahkan, ketika ditanya tentang apakah keberadaannya di Eropa
adalah dalam rangka pengasingan, dengan tegas Benazir membantah: “Kenapa aku
harus mengasingkan diri keluar negeri?, aku kemari untuk perawatan kesehatanku.
Aku dilahirkan di Pakistan, aku akan mati di Pakistan. Kakekku dimakamkan di
sana, ayahku dimakamkan di sana.. tidak, aku tidak akan pernah meninggalkan
negeriku.. orang tidak dapat hidup berdasarkan rasa takut.. orang hanya dapat
tetap bertahan kalau ia penuh harap”.
Kedatangan Benazir di
London ini ternyata menjadi langkah awal yang sangat tepat. Di sana ia disambut
oleh ribuan masyarakat Pakistan di luar lapangan udara Heathrow. Banyak
diantara mereka ~ terutama anggota Pakistan
People’s Party (PPP) dalam pengasingan ~ meminta bertemu dengan Benazir.
Selain sebagai tempat bermukimnya 38.000 orang Pakistan, London memang
sekaligus menjadi pusat aktivitas PPP di luar negeri. Bahkan kedua adik
laki-laki Benazir, Shanawaz dan Murtaza, juga tinggal di London ketika
melancarkan aksi politik mereka guna berjuang membebaskan ayahnya dari penjara
dan hukuman mati.
Melihat penyambutan
sedemikian, Benazir pun lantas kian sadar bahwa dirinya punya potensi dukungan
cukup besar untuk menyusun kekuasaan menentang rezim Zia. Juga atas kenyataan
itu pulalah akhirnya selama tinggal di luar negeri Benazir memanfaatkan
hidupnya “hanya” untuk mengurusi persoalan-persoalan politik, dalam rangka
menyusun kekuatan baru menghadapi rezim militer Pakistan.
Bahkan, Benazir cerdik
pula memanfaatkan undangan bekas teman-temannya semasa kuliah guna melakukan
kunjungan kerja ke Amerika setelah selesai berobat. Benazir faham betul bahwa
Amerika Serikat ~ yang sejak 1979 memberi dana serta publisitas cukup besar
pada Pakistan ~ memang penting posisinya untuk membantu melepaskan tawanan
politik yang masih mendekam di penjara Pakisan. Sehingga selama di Washington
Benazir memanfaatkan semaksimal mungkin kesempatan itu dengan mengemukakan
berbagai permasalahan keluarga dan atau negara Pakistan kepada para Senator,
termasuk Senator Pell dan Edward Kennedy. Ternyata selama di AS, Benazir
memperoleh publisitas yang cukup besar.
Kembali ke Inggris
Benazir lantas menyewa flat Barbican, London, yang akhirnya dengan cepat
menjadi pusat komando PPP di Eropa. Bersama pendukungnya Benazir menerbitkan
pula majalah.
Amal bahasa Urdu yang menyajikan berbagai peristiwa di Pakistan.
Sehingga selama satu setengah tahun menetapnya di London waktunya “habis” untuk
rapat-rapat politik, kunjungan anggota-anggota PPP dari Pakistan dan
sebagainya. Bahkan kalaupun ada kesempatan untuk bertemu keluarga waktunya
dimanfaatkan pula untuk mendiskusikan masalah-masalah negaranya dan atau
cara-cara terbaik untuk melawan rezim Zia ul-Haq.
Satu hal yang patut
dicatat dari berbagai langkah politis selama di pengasingan ini adalah berbeda
dari saudara-saudaranya dalam setiap pembicaraan tentang usaha melawan rezim
Zia Benazir selalu berpegang pada komitmen untuk menghindari cara-cara
kekerasan, yang menurutnya: “Kekerasan akan melahirkan kekerasan.. perubahan
iklim menuju demokrasi yang diharapkan permanen, harus melalui jalan damai dan
mematuhi aturan politik melalui pemilu yang didukung rakyat”.
Demi melihat Benazir
bersaudara sangat aktif mengambil langkah-langkah politis selama di
pengasingan, pemerintah Pakistan pun lantas tak tinggal diam terhadap sikap
keluarga Bhutto ini. Berbagai langkah aktif dan reaktif juga dilakukan.
Terbukti pada 1985 adik bungsu Benazir, Shanawaz, tewas di Riviera, Perancis.
Kendati diberitakan bahwa kematian Shanawaz adalah akibat bunuh diri (minum
racun) karena telah menggalang kekuatan untuk menggulingkan rezim militer Zia
ul-Haq. Memang Shanawaz terjun langsung melatih gerilyawan dan melakukan terror
terhadap pemerintahan. Oleh karena itu dia dianggap berbahaya sehingga harus
disingkirkan.
Kendati sang adik
“terbunuh” oleh lawan politiknya, Dengan dugaan bahwa Shanawaz dibunuh
diperkuat oleh ceita Shah sendiri sewaktu masih hidup. Dia pernah cerita bahwa
salah seorang keluarga istrinya pernah berusaha meracuni Shah dan Mir sewaktu
mereka tinggal di Kabul, Afganistan, dengan tujuan untuk mendapatkan “tanda
jasa” dari Zia. Apalagi berdasar pengamatan Benazir, sepeninggal Shawanaz
ternyata Rehana (istri Shanawaz) sama sekali tak menampakkan sebagai seorang
istri yang baru saja kehilangan suami. Kecurigaan semakin lengkap, setelah
pengadilan Perancis menjatuhkan hukuman pada Rehana, karena dituduh tidak
segera berusaha memberikan pertolongan (membawa ke rumah sakit) ketika tahu
suaminya telah minum racun.
Namun tekad dan
keberanian Benazir untuk berhadapan dengan rezim penguasa Pakistan tidaklah
surut. Bahkan tak lama setelah jenazah Shanawaz di autopsi (pada Agustus 1985)
Benazir justru bertekad pulang, membawa dan mengubur jenazah adiknya pada makam
keluarga di Pakistan, dengan menentang berbagai kecemasan dan atau larangan ibu
dan saudara-saudaranya. Semula pemerintah Pakistan memang enggan mengizinkan
Benazir pulang, mengingat kedatangan Benazir dan jenazah Shanawaz sudah pasti
akan membangkitkan emosi para pendukung PPP. Namun kerena kekerasan tekad
Benazir pula akhirnya pemerintah Pakistan “terpaksa” mengizinkan Benazir
memekamkan Shanawaz di Larkana, kendati dilampiri suatu ketentuan bahwa begitu
mendarat di Karachi, jenazah langsung dibawa ke Larkana. Tetapi, betapapun
usaha Zia membendung emosi massa pelayat, ternyata ribuan orang tetap berjubel
di sekitar makam Al-Murtaza, Larkana. Bahkan tiga hari setelah pemakaman,
tatkala Benazir kembali ke Karachi, ribuan orang ~ di airport ~ menyambut dan
menyampaikan rasa duka cita. Alhasil, “proses penguburan Shanawaz ini” akhirnya
kian menebalkan keyakinan Benazir betapa diri dan keluarga Bhutto punya
kekuatab massa sangat potensial untuk mendongkel rezim militer pimpinan Zia.
Pemerintah Pakistan pun
sadar akan fakta demikian. Sehingga untuk mencegah kian meluapnya emosi
pendukung keluarga Bhutto, maka lima hari setelah tinggal di Pakistan Benazir
dikenai tahanan rumah selama 90 hari. Dia dituduh telah mendatangi
tempat-tempat yang sensitif di Pakistan, seperti rumah Nasser Baloach dan Ayaz
Saramoo, dua pemuda yang terbunuh dalam aktivitas politik mereka. Hanya atas
desakan dari luar negeri akhirnya pada 3 November 1985 Benazir dibebaskan dan
diizinkan kembali ke luar negeri. Akibat peristiwa itu ternyata Benazir tetap
tak jera. Bahkan sebelum ke London kepada para pendukung PPP Benazir berjanji
akan kembali ke Pakistan tiga bulan lagi, apapun konsekuensi yang akan dihadapi.
B.
Lanjutan Masa Kepemimpinan Zia ul-Haq
Selama berkuasa Zia
ul-Haq berupaya menerapkan Islamic Orde yaitu suatu sistem pemerintahan yang
berdasarkan pada Al-Qur’an dan Al-Hadist. Kebijakan demikian tampaknya cukup
memenuhi harapan rakyatnya yang mayoritas Muslim. Namun demikian, memerintah
secara otoriter di bawah naungan undang-undang darurat tetap tak akan mampu
bertahan lama. Karena pada saatnya rakyat “pasti” akan mencapai puncak
kejenuhan yang tak mustahil dapat dimanifestasikan dalam berbagai bentuk
protes. Zia menyadari kemungkinan ini, dan oleh karena itu iapun berusha
melepaskan undang-undang darurat dengan cara mencari dukungan rakyat melalui
suatu referendum nosional, pada bulan Desember 1984. Dalam referendum itulah
akhirnya Zia memperoleh legitimasi dari rakyat untuk memegang mandat, memimpin
Pakistan sampai tahun 1990. Dengan modal referendum ini pula, akhirnya pada
Maret 1985 Zia membentuk pemerintah sipil, dengan Mohammad Khan Junejo sebagai
Perdana Menteri. Selanjutnya, para gubernur militer di seluruh provinsipun
serentak diganti dengan gubernur dari kalangan sipil.
Namun, sebagai politisi
yang cerdik, Zia tak mau kehilangan kekuasaan dan otoriteritasnya di kancah
perpolitikan Pakistan. Sehingga, meskipun pemerintahan Pakistan dipimpin Junejo,
namun Zia masih “bermaksud” memegang kekuasaan tertinggi, dengan tetap memegang
jabatan Presiden, Panglima Angkatan Bersenjata, serta tetap menjadi Kepala Staf
Angkatan Darat. Dengan cara demikian berarti Zia masih tetap mengontrol
jalannya pemerintahan, termasuk khususnya mengawasi secara langsung Angkatan
Darat, salah satu unsur paling dominan dalam angkatan Bersenjata.
Bahkan, sebelumnya
undang-undang darurat dicabut Zia pun terlebih dahulu mengumumkan beberapa
amandemen konstitusi, yang intinya memperkuat kedudukannya sebagai Presiden,
Zia pun segera membentuk Dewan Keamanan Nasional (yang beranggotakan 11 orang)
yang dipimpinnya sendiri disamping memegang hak penuh untuk menunjuk dan
memecat Perdana Menteri, para menteri serta seluruh gubernur. Melalui amandemen
Zia mengukuhkan kekuasaan presiden (yang sedang dipegangnya) untuk membubarkan
Dewan Nasional dan Dewan Provinsi.
Setelah merasa
kedudukannya mantap, barulah (pada 30 Desember 1985) Zia mencabut Undang-undang
Darurat, mengembalikan pemerintahan militer kepada pemerintahan sipil,
membubarkan pengadilan-pengadilan militer, serta memberlakukan kembali
konstitusi yang telah diubah sebelumnya. Banyak personil militer yang
sebelumnya duduk dalam jabatan-jabatan sipil segera diganti dengan aparat dari
sipil. Suatu kabinet baru juga dibentuk namun tetap dipimpin Junejo, tokoh
sipil yang sekaligus menjadi ketua Pakistan Muslem League (PML) yang
komposisinya juga telah diubah menurut Zia ul-Haq.
Karena “faktor” Zia
masih tetap dominan dalam pemerintahan baru, maka oposisi ~ khususnya Benazir ~
memandang berbagai manuver politik Zia ini hanya sebagai perubahan dalam soal
nama belaka. Menurut oposisi, kendati pemerintah sipil telah dibentuk dengan
Khan Junejo sebagai Perdana Menteri , tetapi kekuasaan tetap dikendalikan Zia.
Sehingga perlakuan terhadap rakyat akan tetap sama. Namun diakui atau tidak,
dengan dicabutnya Undang-undang Darurat serta dikeluarkannya janji untuk
menegakkan konstitusi, ternyata tetap memunculkan secercah harapan pada Benazir
bahwa Zia akan menghadapi dirinya sebagai lawan politik yang setara. Terbukti
empat bulan setelah dicabutnya undang-undang darurat, tepatnya pada 10 April
1986, Benazir pulang dari pengasingannya di Inggris.
Kepulangannya ini pulalah
akhirnya membuat pengaruh Benazir untuk membangkitkan semangat menentang rezim
Zia ul-Haq kian meningkat. Benazir relatif berhasil memanfaatkan wibawa sebagai
pewaris nama besar dan atau kharisma mendiang ayahnya, Ali Bhutto. Apalagi
mayoritas rakyat Pakistan ~ terutama di pedesaan ~ masih banyak yang buta
huruf. Sehingga dengan modal kemahiran berpidato serta ditunjang ilmu
pengetahuan yang memadai Benazir dengan relatif mudah dapat mengakumulasi
wibawa, mempengaruhi rakyat untuk mentrasfer loyalitas mereka atas Ali Bhutto
kepada dirinya, sebagai putri sulung mendiang pendiri PPP itu. Apalagi tipe
keagamaan rakyat Pakistan pun masih dominan dengan tipe Muslim Populer yang
masih mencampuradukkan tradisi dengan ajaran Islam. Kondisi demikian telah
memberi keuntungan tersendiri bagi upaya Benazir itu. Bahkan, di sebagian
kelompok elit “barisan sakit hati” pun Benazir mampu menyebarkan pengaruh,
terutama akibat kemampuannya memanfaatkan kekecewaan mereka pada beberapa
kebijakan Zia ul-Haq. “Elit sakit hati” ini akhirnya bukan sekedar menjauhkan
diri dari rezim penguasa, melainkan juga cenderung kerjasama dengan Benazir
menjadi oposan bagi pemerintahan Zia.
C.
Gejolak Karir Benazir Bhutto
Tanggal 16 November 1988, dalam
sebuah pemilihan umum terbuka pertama dalam waktu lebih dari sepuluh tahun,
partai Benazir, PPP, berhasil mendapat jumlah kursi terbanyak di Dewan
Nasional. Benazir diambil sumpahnya sebagai Perdana Menteri sebuah pemerintahan
koalisi pada 2 Desember 1988 dan dengan usia 35 tahun ia menjadi orang termuda
serta perempuan pertama yang memimpin sebuah negara dengan mayoritas rakyatnya
beragama Islam di zaman modern. Setelah dipecat oleh presiden Pakistan saat itu
dengan tuduhan korupsi, partai Benazir kalah dalam pemilihan umum yang
diselenggarakan di bulan Oktober. Ia menjadi pemimpin oposisi sementara Nawaz
Sharif menjadi perdana menteri selama tiga tahun berikutnya. Ketika pemilihan
umum Oktober 1993 kembali diadakan, yang dimenangkan oleh koalisi PPP, yang
mengembalikan Bhutto ke dalam jabatannya hingga 1996, ketika pemerintahannya
sekali lagi dibubarkan atas tuduhan korupsi. Benazir dituduh melakukan korupsi
namun belakangan namanya dibersihkan. Ia juga dituduh melakukan pencucian uang
negara di bank-bank Swiss, dalam sebuah kasus yang masih tetap berada di
pengadilan Swiss. Suaminya, Asif Ali Zardari, mendekam selama delapan tahun di
penjara, meskipun ia tidak pernah terbukti bersalah. Ia ditempatkan di sebuah
tahanan tersendiri dan mengaku mengalami siksaan. Kelompok-kelompok hak-hak
asasi manusia juga mengklaim bahwa hak-hak Zardari telah dilanggar. Mantan
perdana menteri Nawaz Sharif baru-baru ini meminta maaf atas keterlibatannya
dalam penahanan yang berkepanjangan atas Zardari dan kasus-kasus yang diajukan
melawan Benazir. Zardari dibebaskan pada bulan November 2004.
Benazir sejak tahun 1999
tinggal dalam pengasingan di Dubai, Uni Emirat Arab dan di sana ia mengasuh
anak dan ibunya yang menderita penyakit Alzheimer. Ia juga berkeliling dunia
untuk memberikan kuliah dan tetap menjaga hubungannya dengan para pendukung Partai
Rakyat Pakistan. Benazir dan ketiga orang anaknya (Bilawal, Bakhtawar, dan
Asifa) dipersatukan kembali bersama suami serta ayah mereka pada bulan Desember
2004 setelah lebih dari lima tahun terpisah. Benazir telah bersumpah untuk
kembali ke Pakistan dan mencalonkan diri kembali sebagai Perdana Menteri dalam
pemilihan umum yang dijadwalkan pada November 2007 mendatang. Tanggal 18
Oktober 2007, ia kembali ke Pakistan untuk mempersiapkan diri mengahadapi
pemilu. Dalam perjalanan menuju sebuah pertemuan, dua buah bom meledak di dekat
rombongan yang membawanya. Benazir selamat, namun sedikitnya 126 orang tewas
dalam peristiwa tersebut.
D.
Pembunuhan Benazir Bhutto
Rentetan peristiwa terus
terjadi sebelum terbunuhnya benazir Bhutto, hingga pada tanggal 27 Desember
2007 Benazir Bhutto terbunuh.Ketika Benazir Bhutto mengikuti suatu rapat umum
kapanye pemilihan di Rawalpindi. Pada saat ia akan menumpang mobil meninggalkan
ruang rapat setelah menyampaikan pidato, seorang laki-laki bersenjata tiba-tiba
melepaskan tembakan dan mengenai bagian leher dan dadanya. Penyerang kemudian
meledakkan bom pada dirinya. Benazir Bhutto segera dilarikan ke rumah sakit,
tapi tidak berhasil diselamatkan dan meninggal pada pukul 18:16 waktu setempat.
Selain itu terdapat sekitar 30 orang tewas dalam peristiwa serangan itu.
Seorang saksi mata mengatidakan : "Ketika Benazir Bhutto melangkah keluar
dari pintu ruang rapat, situasi di luar menjadi kacau, terdengar beberapa kali
tembakan dan sekali peledakan, suasana sangat kacau, banyak orang cedera dalam
peledakan, mobil Benazir Bhutto juga rusak berat."Setelah terjadinya
peristiwa itu, Presiden Pakistan Pervez Musharaf menyatidakan kecaman keras.
Dikatidakannya,"Hari ini di Kota Rawalpindi, Nyonya Benazir Bhutto dibunuh
oleh kaum teroris yang biadab. Saya sulit menguraikan betapa malangnya
peristiwa ini bagi Pakistan. Dengan kesempatan ini, saya menyatidakan rasa
sedih dan dukacita kepada keluarga Nyonya Benazir Bhutto. Saya juga menyatidakan
rasa simpati kepada mereka yang tidak berdosa yang terbunuh dan serangan ini
serta keluarga mereka."Musharaf mengumumkan seluruh negeri berkabung
selama tiga hari untuk Benazir Bhutto. Ia meminta pula agar rakyat Pakistan
tetap tenang dan menahan diri. Sementara
itu, ia menegaskan kembali tekad pemerintah Pakistan untuk memerangi kekuatan
teroris dan ekstrimis. Masyarakat internasional mengecam keras peristiwa
serangan itu. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Qin Gang menyatidakan,
Tiongkok mengecam keras peristiwa teroris itu dan merasa terkejut atas
terbunuhnya Benazir Bhutto. Dinyatidakan pula rasa simpati kepada keluarga
Benazir Bhutto dan para korban lainnya. Sekretaris Jendral PBB Ban Ki-moon dalam
pernyataannya mengatidakan, peristiwa itu dilakukan untuk merusak kestabilan
dan proses demokrasi di Pakistan. Mereka yang bertanggung jawab harus dijerat
oleh hukum. Dikatidakannya,"Saya dengan keras mengimbau masyarakat di
Pakistan supaya menahan diri secara maksimal pada saat yang sulit ini demi
menjaga persatuan dan perdamaian negara."
Pembunuhan terhadap Benazir
memang memunculkan spekulasi tentang siapa yang berada di balik aksi keji
tersebut. Banyak kekuatan yang mungkin berada di belakang pembunuhan itu. Dua
bulan sebelum kematiannya, wartawan CNN menerima surat elektronik dari Benazir
yang dikirim melalui Mark Siegel. Dalam surat itu, ia berpesan, “Kalau saya
terbunuh, Presiden Pakistan Pervez Musharaf adalah orang yang paling disalahkan
…” Selain itu sebelum terbunuh, Benazir juga pernah menuding beberapa pihak
berada di belakang upaya pembunuhan terhadap dirinya, termasuk agen-agen
intelijen pemerintah, kelompok militan pro Al-Qaeda, dan kelompok pendukung
Zia-ul-Haq. Sementara setelah peristiwa tewasnya Benazir, pemerintahan
Musharraf langsung menuding kelompok Al-Qaeda sebagai pelakunya. Suami Benazir,
Asif Ali Zardani menuduh ISI (dinas intelijen Pakistan) terlibat dalam serangan
yang menewaskan istrinya itu. Banyak kalangan di Pakistan yang sependapat
dengan Zardari. Benazir memang punya banyak musuh di negerinya. Namun, sambutan
luar biasa pada saat kepulangannya membuktikan dia masih tetap dipuja sebagai
pemimpin kendati telah delapan tahun di pengasingan.
E.
Dinasti Bhutto
Dinasti Buttho dikenal dunia sebagai keluarga
politisi. Berikut adalah rangkuman sosok dari tokoh-tokoh politik Pakistan dari
dinasti Bhutto :
a)
Zulfikar Ali Bhutto
Dinasti politik keluarga
Bhutto dibangun oleh Zulfikar Ali Bhutto. Dia lahir di wilayah Larkana yang
waktu itu masih dibawah kekuasaan Inggris dan kemudian menjadi wilayah Provinsi
Sindh dibawah Pakistan pada tanggal 5 Januari 1928. Ayah Zulfikar, Shah Nawaz
Bhutto adalah seorang tuan tanah yang kaya raya sehingga mampu menyekolahkan
anaknya ke luar negeri. Selain Zulfikar, Shah Nawaz Bhutto memiliki dua anak
laki-laki yaitu Sikandar dan Imdad Ali. Namun kakak-kakak Zulfikar Ali Bhutto
meninggal dunia secara mengenaskan. Sikandar meninggal ketika masih kecil
akibat menderita gangguan pernapasan dan Imdad Ali meninggal dalam usia 39
tahun pada tahun 1953 akibat penyakit lever. Pada tahun 1947, Zulfikar dikirim
untuk menempuh pendidikan tinggi di University of Southern California. Pada
tahun yang sama, Nawaz Bhutto terlibat dalam pergolakan politik di wilayah
Junagadh yang sekarang wilayah Gujarat India. Nawaz berusaha memasukkan wilayah
Junagadh yang dikuasainya ke Pakistan tetapi digagalkan oleh India pada tahun
1947.
Zulfikar kuliah di
Universitas Berkeley California dan pada tahun 1949 hingga meraih sarjana ilmu
politik. Pada tahun 1950 Zulfikar belajar hukum di The Christ Church Oxford,
Inggris. Dia kemudian menikahi Begum Nusrat Ispahani, istri keduanya setelah
Zulfikar bercerai dari Shireen Amir Begum. Dari Ispahani, Zulfikar mendapat
seorang anak perempuan yang kelak menjadi penerusnya yaitu Benazir Bhutto.
Karier politik Zulfikar dimulai pada tahun 1957 ketika dia menjadi anggota
termuda dalam delegasi Pakistan yang dikirim ke PBB. Pada tanggal 25 Oktober
1957 dia berbicara di Komite Keenam PBB tentang Agresi dan menjadi pemimpin
delegasi Pakistan ke Konferensi PBB tentang Aturan Kelautan 1958. Ditahun yang
sama Zulfikar menjadi menteri termuda dalam kabinet Presiden Muhammad Ayub
Khan, zulfikar menjadi orang kepercayaan Ayub, walaupun usianya masih muda dan
tidak memiliki pengalaman politik. Zulfikar kemudian ditunjuk menjadi menteri
luar negeri. Dia mengubah arah kebijakan luar negeri Pakistan yang sebelumnya
pro-Barat. Zulfikar sering mengkritik kebijakan AS di wilayah itu. Dia
menjalankan politik luar negeri yang merdeka dari dari pengaruh AS. Sebagai
sandarannya Zulfikar menjalin hubungan yang sangat baik dengan Cina. Zulfikar
juga yakin dengan ide kesatuan Pan Islami yang membuatnya berhubungan erat
dengan Indonesia, Arab Saudi, dan negara-negara Arab. Zulfikar bahkan terkenal
karena sikapnya yang keras terhadap India.
Ketika terjadi
pergolakan hebat di Kashmir dan India, dia mengirimkan pasukan besar ke wilayah
itu. Zulfikar mengobarkan semboyan perang dengan berbicara pedas terhadap India
dalam Sidang Dewan Keamanan PBB. Zulfikar menuding India melakukan agresi dan
menyatidakan, “kami akan berperang selama seribu tahun !” lalu Zulfikar
merobek-robek berkas DK PBB dan beranjak dari hadapan sidang. Akibatnya,
Pakistan dan India terlibat dalam peperangan hebat yang mengkhawatirkan bagi
AS, Inggris, dan Uni Soviet. Perang baru mereda setelah PBB turun tangan.
Zulfikar kemudian mendampingi Presiden Ayub Khan dalam negosiasi dengan India.
Negosiasi itu menyepakati bahwa masing-masing negara mundur ke garis batas sebelum
perang. Perjanjian damai itu tidak disambut baik oleh Zulfikar dan sebagian
besar rakyat Pakistan. Karena kritik-kritik terhadap Ayub, Zulfikar mulai
disisihkan dan akhirnya dia menjadi tokoh oposisi terhadap pemerintahan Ayub.
Setelah mundur dari kabinet, Zulfikar mendirikan Partai Rakyat Pakistan yang
mendapat dukungan besar dari rakyat. Partai ini pula yang kemudian rajin
melakukan demonstrasi dan pemogokan sehingga Ayub Khan kemudian mengundurkan
diri dari jabatannya.tongkat kepemimpinan Pakistan diserahkan kepada Jenderal
Yahya Khan yang kemudian menggelar pemilu pada 7 Desember 1970. Dalam pemilu
itu Partai Rakyat Pakistan menang di wilayah Pakistan Barat, sementara di
Pakistan Timur, Liga Awami pimpinan Sheikh Mujibur Rahman meraih suara terbanyak.
Kekuatan politik Pakistan terpecah. Liga Awami menolak tawaran Zulfikar untuk
berkoalisasi dan malah membentuk Dewan Nasional yang kemudian menginisiasi
lahirnya negara Bangladesh. Atas intervensi India, kekuatan tentara Pakistan di
wilayah timur dikalahkan dan negara Bangladesh pun lahir. Zulfikar menyalahkan
kebijakan Yahya Khan atas kemerdekaan Bangladesh. Tekanan rakyat terhadao
pemerintah pun semakin keras. Akhirnya Yahya mengundurkan diri dan menyerahkan
tongkat kepemimpinan Pakistan kepada Zulfikar. Di masa kepemimpinannya,
Pakistan tidak menjadi lebih damai. Langkah politik dan kebijakannya banyak
yang kontroversial. Dia melakukan perjanjian damai dengan India untuk
membebaskan 93.000 tawanan perang Pakistan di India. Dalam perjanjian itu
Zulfikar dianggap terlalu banyak memberi konsesi kepada India. Di sektor
bisnis, Zulfikar dianggap meresahkan karena menasionalisasi perusahaan industri
berat. Dia juga dianggap berkhianat karena mengakui keberadaan negara
Bangladesh dan menabur bunga di makam pahlawan kemerdekaan Bangladesh.
Ketika situasi semakin
tidak menentu, Zulfikar dituduh menghilangkan nyawa lawan-lawan politiknya.
Situasi Pakistan semakin tegang, lalu dia menunjuk Jenderal Zia-ul-Haq untuk
menjadi panglima angkatan bersenjata. Zulfikar juga mulai menetapkan kebijakan
mengembangkan senjata nuklir. Penolakan atas kepemimpinan Zulfikar semakin
kuat. Tiba-tiba saja Zia-ul-Haq melakukan kudeta dan menangkap Zulfikar. Dia
ditahan dan diadili dengan berbagai tuduhan pembunuhan. Zulfikar kemudian dihukum
gantung pada tanggal 4 April 1979. Zia-ul-Haq menolak permohonan yang diajukan
berbagai kepala negara di dunia untuk membatalkan hukuman gantung itu.
Sepeninggal Zulfikar, kunci kepemimpinan Partai Rakyat Pakistan diserahkan
istrinya, Nusrat Ispahani Bhutto. Nusrat kemudian berjuang mempertahankan
partai itu dibawah tekanan pemerintahan Zia-ul-Haq dan mempersiapkan Benazir
sebagai penerus ayahnya. Cita-cita Nusrat terjawab pada tahun 1988, nyaris
sepuluh tahun sejak kematian Zulfikar, ketika Benazir dilantik menjadi Perdana
Menteri Pakistan dan dikenal sebagai perempuan pertama yang memimpin negara
muslim. Namun kerasnya kehidupan politik Pakistan memaksa Benazir untuk turun
dari jabatannya 20 bulan kemudian. Berbagai tuduhan korupsi dialamatkan kepadanya.
Benazir sempat terpilih kembali sebagai perdana menteri pada tahun 1993 tetapi
disingkirkan oleh Presiden Farooq Leghari.
b)
Benazir Bhutto
Benazir Bhutto
dilahirkan di Karachi tanggal 21 Juni 1953. Ia dikenal dunia sebagai politisi
Pakistan yang menjadi perempuan kepala pemerintahan pertama dalam sejarah
Pakistan. Dari Dinasti Bhutto, Benazir menjadi penerus terakhir kejayaan
politik ayahnya. Ia terpilih dua kali sebagai perdana menteri yaitu pada
periode 1988-1990 dan 1993-1996. Benazir muncul sebagai tokoh perempuan muda
yang glamor dalam kehidupan pribadinya sekaligus keras di panggung politik.
Tekad kuat dan sikap keras kepala Benazir mulai tampak ketika ayahnya dipenjara
dan kemudian didakwa melakukan pembunuhan pada masa pemerintahan Jenderal Zia-ul-Haq.
Oleh karena itu Benazir berang dan sangat mendendam kepada militer. Di masa
kecil dan remajanya, Benazir belajar di Lady Jennings Nursery School dan
Sekolah Perempuan Jesus and Mary di Karachi, Pakistan. Seterusnya di Rawalpindi
Presentation Convent. Ia lulus O-level ketika berumur 15 tahun. Benazir lulus
dari Harvard University pada tahun 1973 dan dari Universitas Oxford pada tahun
1977. Hebatnya pada tahun 1976 ia menjadi perempuan Asia pertama yang memimpin
kelompok elite bernama Oxford Union. Ia pun langsung menarik perhatian media di
seluruh dunia.
Setelah ayahnya
dieksekusi pada tahun 1979 oleh rezim militer Zia-ul-Haq, Benazir secara tidak
resmi menjadi pimpinan sementara Partai Rakyat Pakistan. Namun ia dikenai
penahanan rumah pada tahun1979-1984. Benazir dan ibunya bahkan pernah
dijebloskan ke penjara walaupun ia juga sempat diizinkan ke luar negeri untuk
menjalani pemeriksaan medis tahun 1984. Pada Agustus 1988, Presiden Zia-ul-Haq
tewas dalam kecelakaan pesawat terbang. Akibatnya terjadi kekosongan kekuasaan
di Pakistan. Dalam pemilu yang dilakukan kemudian, Partai Rakyat Pakistan
memenangkan mayoritas kursi di Dewan Nasional yang berujung pada pengangkatan
Benazir Bhutto sebagai perdana menteri pada tanggal 1 Desember 1988. Benazir
Bhutto menjadi perempuan muslim pertama di dunia yang menjadi perdana menteri.
Pada awalnya Benazir Bhutto sangat populer dan dilihat sebagai tokoh yang
sangat berbeda dengan pemerintahan militer. Tetapi dua kali masa jabatannya
sebagai perdana menteri berakhir dengan pemecatannya atas dakwaan korupsi. Dia
meninggalkan kantor perdana menteri dengan reputasi yang hancur. Ketika
memerintah, Benazir selalu menyuarakan isu-isu tentang perempuan, kesehatan,
dan diskriminasi terhadap perempuan. Ia menyatidakan akan membentuk kesatuan
polisi yang anggotanya adalah perempuan, juga mahkamah dan bank pembangunan
yang dikelola perempuan. Namun tidak satupun niatnya terwujud di Pakistan.
Selama berkuasa, Benazir membangun sekolah-sekolah di seluruh negeri, dan
listrik pun berhasil dialirkan ke daerah-daerah pedesaan. Kelaparan, perumahan,
dan layanan kesehatan menjadi prioritas utamanya. Meskipun ia telah melakukan
banyak hal baik untuk rakyatnya, namun bukan berarti semua orang menyukainya.
Selama berkuasa, Benazir banyak menghadapi perlawanan dari gerakan-gerakan
Islam ekstrem yang tidak menyukai kepemimpinan seorang perempuan apalagi gaya
kepemimpinannya cenderung liberal.
Pemerintah Sharif dengan
gencar melancarkan tuduhan korupsi terhadap Benazir Bhutto. Benazir dan
suaminya, Asif Ali Zardari seorang pebisnis dan senator kontroversial dipenjara
tahun 1996. Dalam pengadilan di Lahore keduanya menjadi terpidana kasus
korupsi. Benazir didakwa menyalahgunakan uang negara melalui Bank Swiss. Semasa
dipenjara ia mengaku disiksa. Asif dibebaskan pada tahun 2004 namun kemudian
dituduh lagi mencuri uang negara. Pada tahun 2004, suami Benazir dibebaskan
dari penjara dab bergabung dengannya di pengasingan. Baru beberapa saat sebelum
dilangsungkan pemilu 2007, dimulailah pembicaraan mengenai kemungkinan
kembalinya Benazir Bhutto ke Pakistan. Pada Oktober 2007, Benazir bisa kembali
ke Pakistan setelah delapan tahun hidup di pengasingan di Dubai. Tapi ancaman
terhadapnya tidak pernah surut. Selain pemerintah, banyak pihak yang kurang
menyukainya. Maka tidak heran bila kepulangannya disambut dengan ledakan bom
yang nyaris merenggut nyawanya. Dalam peristiwa tersebut, musuh-musuh Benazir
bersumpah akan terus melancarkan serangan bila ia menyusun kekuatan lagi.
Sumpah itu dibuktikan hari kamis 27 Desember 2007 ketika tembakan dan ledakan
bom mengakhiri perjalanan Benazir Bhutto dalam kancah politik Pakistan . Ia
tewas bersama puluhan orang yang mengikutinya.
Setelah Indira Ghandhi
di India, Benazir Bhutto adalah perempuan pemimpin kedua yang terbunuh di Asia
Selatan. Ia juga merupakan perdana menteri kedua di Pakistan yang tewas dibunuh
setelah perdana menteri Liaquat Ali Khan dibunuh pada tahun 1951 di Rawalpindi
saat berpidato di depan massanya. Setelah Benazir tewas, Presiden Musharraf
mengakui kharisma dan pengaruh yang dimiliki Benazir. Perjalanan hidup dan
karier politiknya memang seperti arti nama Bhutto yaitu unik.
c)
Shahnawaz Bhutto
Dia adalah saudara
laki-laki Benazir Bhutto yang juga terjun dalam dunia politik. Pembawaanya lebih tenang dan tidak memilih
cara-cara keras seperti Mir Murtaza, saudaranya selain Benazir. Namun tahun
1985, shahnawaz tewas diracun di apartemennya di Riviera, Prancis Selatan.
d)
Mir Murtaza Bhutto
Murtaza juga saudara
laki-laki Benazir Bhutto yang aktif dalam politik. Dia lama tinggal di
Afghanistan setelah ayahnya dipenjarakan oleh Zia-ul-Haq. Di Afghanistan,
Murzata memimpin perlawanan terhadap militer Pakistan melalui kelompok
bersenjata yang bernama Al Zulfikar. Pada tahun 1993, Murzata kembali ke
Pakistan dengan maksud mengikuti pemilu. Di Pakistan dia malah menyerang suami
Benazir dengan tuduhan korupsi. Tahun 1996, Murzata dituduh terlibat dalam aksi
teror. Konon dia juga manjadi aktor intelektual peristiwa pembajakan pesawat
terbang Pakistani Airlines. Setelah dibebaskan dari penjara, Murtaza mengikuti
pemilu dan memenangi kursi parlemen Sindh. Pada tanggal 19 September 1996,
Murtaza Bhutto ditembak mati bersama enam pemimpin partai yang lain di rumahnya
di Karachi. Suami Benazir dituduh membunuhnya dan kasus ini tidak terungkap
hingga sekarang.
e)
Asif Ali Zardawi
Asif Ali Zardari adalah
suami Benazir Bhutto. Dia sering memainkan peran-peran kunci dalam administrasi
pemerintahan Benazir. Banyak pakar percaya bahwa turunnya Benazir dari tampuk
perpolitikan cenderung disebabkan oleh ketamakan suaminya. Zardari juga dituduh
terlibat dalam rekayasa kematian Murtaza Bhutto. Pada tahun 1998, Daniel
Devould seorang hakim di Jenewa menuduh Benazir dan suaminya terlibat pencucian
uang hasil korupsi di Pakistan dengan membeli perhiasan seharga lebih dari
190.000 dolar AS di Swiss. Pengadilan tinggi Lahore di Rawalpindi menjatuhkan
vonis lima tahun penjara kepada Benazir dan Zardari atas dakwaan menerima
sogokan dari maskapai Swiss SGS yang disewa pemerintah Pakistan untuk mencegah
pengelakan pajak oleh eksportir di negeri itu. Pada waktu itu Benazir sudah
lebih dulu ke luar negeri sehingga suaminya yang sedang menjalani hukuman
penjara untuk kasus-kasus korupsi lain justru diperpanjang hukuman penjaranya.
Tidak ada satupun diantara 18 tuduhan korupsi terhadap Zardari yang benar-benar
terbukti di pengadilan. Meski begitu dia sempat mendekam dalam penjara selama
delapan tahun. Dia dibebaskan dari penjara pada tahun 2004 dengan jaminan.
Sesudah bebas dari oenjara, Zardari tetap mengelola asetnya di Inggris.
Dalam wawancara di
televisi nasional Pakistan pada tahun 2005, Zardari mengatidakan bahwa militer
telah menawarkan untuk membebaskannya dan mencabut semua tuduhan terhadap dirinya
bila ia setuju untuk meninggalkan dunia politik dan pergi dari Pakistan namun
Zardari menolak. Kemudian Musharraf menandatangani sebuah amnesti dan mencabut
segala tuduhan korupsi terhadap Benazir dan suaminya. Pada tahun 2007 Benazir
memutuskan untuk kembali ke Pakistan. Namun ketika Musharraf pada tanggal 3
November 2007 menyatidakan negara dalam keadaan darurat, Benazir dikenakan
tahanan rumah.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Benazir Bhutto (kelahiran
Karachi, Pakistan, 21 Juni 1953) merupakan wanita pertama yang memimpin sebuah
negara Muslim di masa pasca kolonial. Bulan Juni 1973, Benazir lulus dari
Harvard dengan gelar dalam ilmu politik. Ia juga terpilih sebagai anggota Phi
Beta Kappa. Pakistan adalah negara yang muncul diatas peta dunia pada 14
Agustus 1947. Negara ini lahir dari aspirasi umat islam india untuk mendirikan
pemerintahan yang memungkinkan mereka untuk hidup sesuai dengan prinsip dan
ajaran islam. Momentum ini tampak jelas dalam pernyataan Muhammad Ali jinnah,
tokoh pendiri pakistan, “kita tidak memperjuangkan berdirinya Pakistan hanya
untuk mendapatkan sebidang tanah, tetapi kita menginginkan suatu wilayah yang
membuat kita bisa menerapkan prinsip dan ajaran islam”.
Rentetan peristiwa terus
terjadi sebelum terbunuhnya benazir Bhutto, hingga pada tanggal 27 Desember
2007 Benazir Bhutto terbunuh. Ketika Benazir Bhutto mengikuti suatu rapat umum
kapanye pemilihan di Rawalpindi. Pada saat ia akan menumpang mobil meninggalkan
ruang rapat setelah menyampaikan pidato, seorang laki-laki bersenjata tiba-tiba
melepaskan tembakan dan mengenai bagian leher dan dadanya. Penyerang kemudian
meledakkan bom pada dirinya. Benazir Bhutto segera dilarikan ke rumah sakit,
tapi tidak berhasil diselamatkan dan meninggal pada pukul 18:16 waktu setempat.
B.
Saran
Sebagai seorang mahasiswa
pendidikan sejarah, sudah selayaknya kita dapat memahami peran para tokoh dunia
yang ingin berusaha menggerakkan dan membangun negaranya. Selain itu perlu kita
pahami pula bagaimana adanya kudeta-kudeta dalam pemerintahan suatu negara.